Selasa, 22 November 2016

Kejayaan Bangsa Pengungsi Bernama ROMAWI

Ada suatu pemukiman kecil di sisi sungai Tiber yang subur namun penuh dengan nyamuk. jumlah penduduknya tidak besar dan kebanyakan berprofesi sebagai peternak atau peladang tradisional. hanya ada 2 hal yang mereka khawatirkan yakni serbuan orang barbar dari utara dan cuaca buruk yang mengganggu hasil panen. sekilas kampung bernama Roma tidak terlihat sebagai tempat berdirinya sebuah bangsa yang memiliki masa depan yang luar biasa.
Statue of Romulus Remus and the she wolf
Romulus dan Remus pendiri kota Roma dalam mitologi bangsa Romawi

Perbedaannya semakin nyata apabila dibandingkan dengan peradaban lain di sekitaran laut Mediterania. Kerajaan Mesir dan Persia sudah menikmati kebudayaan tinggi dan kompleks selama ribuan tahun dan menjadi superpower dunia kuno. tetangganya Yunani juga sudah berkembang pesat dengan pemikiran seperti demokrasi atau karya sastra sekelas Iliad. pada saat itu Romawi hanya bisa menjadi pengekor kerajaan yang lebih maju.

Ketika "300" Sparta bertahan dari serangan Persia di abad ke 5 BC, penduduk Roma masih sibuk melakukan perang antar petani dengan rebutan sapi sebagai hadiah. ketika Alexander the great berhasil mengalahkan Persia yang membawa pasukan nyaris 10x lebih besar darinya lalu melakukan ekspansi hingga ke India di abad ke 4 BC, kota Roma justru dihancurkan oleh invasi suku barbar yang masih dianggap primitif.

Bisa dikatakan Romawi bukan siapa-siapa pada waktu itu. jangankan meraih kegemilangan besar seperti raja Macedonia, sekedar melindungi diri melawan suku barbar saja tidak sanggup. tapi uniknya hanya dalam waktu 100 tahun Romawi menjelma menjadi superpower yang tiada bandingannya. potensi perkembangan dan kekuatan Romawi di segala bidang tampak tidak terbatas dan baru meredup ribuan tahun setelahnya.
the extent of Roman empire
Romawi di puncak kejayaannya pada abad ke 2 meliputi semua peradaban kuno di belahan bumi eropa

Lho kok bisa? bagaimana sebuah komunitas petani dan peternak yang terbelakang bisa tiba-tiba melompat menjadi sebuah kekuatan superpower?

Jawabnya akan terdengar sangat sederhana, yakni kewarganegaraan yang juga diberikan kepada bangsa asing yang menginginkannya.

Sejak awal berdirinya kota Roma psikis penduduknya sudah berbeda dengan bangsa lain di sekitarnya. apabila peradaban lain cenderung mengakui diri mereka sebagai pribumi atau penduduk asli dari suatu wilayah sejak diciptakan oleh dewa-dewa ribuan tahun lalu, orang Romawi tidak memiliki klaim atau pandangan yang sama mengenai asal usulnya dan wilayah yang ditempatinya.

Dalam mitologi Romulus dan Remus yang menjadi pendiri kota Roma dikisahkan sebagai anak-anak terbuang. hal yang sama terjadi pada klaim asal usul yang lebih romantis bahwa Romawi berasal dari garis keturunan penduduk kota Troya yang melarikan diri setelah kalah perang melawan Yunani. masyarakat Roma mempercayai bahwa mereka berasal dari kaum  terbuang, pelarian atau pengungsi yang mencoba bertahan hidup di tempat asing.

Karena itu walaupun pada awalnya Romawi mengikuti corak yunani dengan model kerajaan, tetapi kemudian secara natural mengubah diri dengan pemerintahan republik. mereka merasa pede dengan perbedaan yang mereka miliki dan menyadari betul bahwa nenek moyangnya adalah kaum terbuang sehingga Roma membuka diri terhadap semua orang yang bernasib sama yang hendak mencari tempat perlindungan dan membuka lembaran hidup baru.
Cincinnatus receiving envoy from roman senate
Lukisan tokoh Cincinnatus yang menggambarkan Romawi sebagai masyarakat agraris

Tidak seperti bangsa lainnya dimana kewarganegaraan adalah hal yang hampir sakral dan hanya didapatkan dari keturunan atau kelahiran, Romawi memberikan status warga negara kepada semua orang yang menginginkannya dengan syarat yang lunak. mereka tidak takut terhadap loyalitas mendua, bagi Romawi kesamaan kepentingan dan tujuan jauh lebih menjamin daripada kesetiaan hanya karena faktor keturunan pribumi semata.

Semua warga romawi apapun asal usulnya dan tempat kelahirannya berhak menerima perlindungan hukum, sistem peradilan terbuka, kesempatan usaha dan hak berpolitik. bahkan kepada tahanan sekalipun seorang warga Roma dijamin tidak akan menerima kekerasan, siksaan, eksekusi ataupun penahanan sebelum menjalani peradilan. hal ini cukup revolusioner apabila dibandingkan dengan hukum kerajaan dimana rakyat dianggap sebagai objek milik penguasa.

Kebaikan di atas hanya perlu dibayar dengan menjadi warga yang patuh hukum dan sebuah janji. "ketika Republik diserang, anda mau membantu untuk mempertahankannya."

Begitu banyak benefit dan murahnya "harga" yang ditawarkan membuat banyak masyarakat yang terusir dari tempat asalnya berakhir di Roma. bukan hanya masyarakat kelas bawah tetapi termasuk juga kaum cendikiawan dan bekas bangsawan yang dimusuhi di tempat asalnya. keberadaan mereka membuat Roma mampu mengejar banyak ketertinggalan di sektor pendidikan, seni dan sastra.

Sedangkan kaum pekerja baik ahli ataupun tidak akan berkontribusi pada sektor ekonomi, hiburan serta pelayanan masyarakat. lalu generasi muda akan menerima latihan militer sebagai bagian dari pendidikan sebagai persiapan untuk mempertahankan diri dari serangan bangsa lain. kebijakan buka pintu yang mereka lakukan begitu menguatkan Romawi hingga fondasi sebuah peradaban besar bisa selesai dalam waktu singkat.
early roman cavalry
Kavaleri Romawi bukan bangsawan tetapi berasal dari kelas sosial atas yang mampu membeli seekor kuda

Kebijakan yang sama juga berpengaruh pada corak peperangan yang mereka lakukan. kembali ke ilustrasi petani, apabila dahulu mereka berperang setiap musim panen yang kekurangan untuk rebutan panen dan sapi tetangganya. sekarang tidak hanya gontok-gontokan lalu selesai bawa lari sapi tetapi setelahnya mereka akan mengajak tetangganya untuk bergabung bersama mereka.

"Gimana kalau situ ikut jadi Romawi saja? jadi kita tidak usah perang tiap tahun gtu lho. tahun depan kita perang melawan si kasar dari kampung sebelah sungai saja, sapi nya gemuk-gemuk.."

Kewarganegaraan Romawi juga diberikan kepada bekas musuh-musuhnya. tentu ada syaratnya yakni dengan menuntaskan dinas militer terlebih dahulu barulah mendapatkan kewarganegaraan baik setengah atau penuh. tetapi hal yang tampaknya kecil ini akan membawa dampak yang sangat besar.

Pada umumnya bangsa yang kalah perang akan diperlakukan sebagai sapi perah yang dijajah di tanah kelahirannya sendiri. hal ini membuat risiko pemberontakan selalu tinggi, ketika penguasa lemah maka bangsa yang dijajah akan merebut kekuasaan lalu memerdekakan diri. ini adalah siklus bangkit dan tenggelamnya kerajaan atau bangsa sejak jaman prasejarah.

Romawi memutus mata rantai tersebut dengan memanjangkan tangannya kepada pihak yang dikalahkan dalam perang. asalkan bukan lawan politis, tidak berstatus budak atau bermasalah secara hukum maka mereka berkesempatan untuk menjadi warga negara Romawi. hal ini membuat populasi yang dikalahkan tidak akan sibuk berkomplot untuk memberontak karena diperlakukan sederajat dan bisa memulai lembaran baru dalam hidup.

Pada kebanyakan kasus masyarakat kelas bawah bekas kerajaan yang dikalahkan justru memiliki kesempatan hidup yang lebih baik di bawah pemerintahan republik. karena itu banyak yang melupakan loyalitasnya terhadap kerajaan lama. hal ini membuat bangsawan kerajaan lama yang berniat memberontak impoten karena tidak memiliki dukungan masyarakat luas yang bisa digerakkan untuk melakukan perebutan kekuasaan.
roman republic army
Kemampuan militer Romawi terus membesar seiringan dengan pertambahan populasi dari wilayah taklukan

Bagi Romawi bukan hanya soal keamanan dari pemberontakan yang membuat perkembangannya semakin optimal, perpanjangan tangan terhadap mantan lawan juga sangat menguntungkan dari sisi militer. setiap suku yang menerima ajakan Romawi akan mengirimkan generasi muda mereka untuk menjalani dinas militer. karena itu setelah perang Romawi justru memiliki lebih banyak prajurit yang bisa digerakkan dalam kampanye militer.

Berbeda dengan kerajaan lain dimana prajurit haruslah suku asli bangsanya, romawi mengambil prajurit dari setiap suku yang menjadi warga negara, baik itu suku asli Roma ataupun suku asing yang baru saja dikalahkan dalam perang. dengan pelatihan menjadi Legiuner generasi muda mantan lawan akan terbiasa dengan budaya, cara hidup dan pemikiran Romawi sehingga semakin mantap menjadi warga negara republik yang loyal dan bisa diandalkan.

Sekali menang membuat populasi dan militernya bertambah. 100x menang maka kelipatannya hampir 100x juga. ini adalah sulap ala Romawi. asalkan bisa terus menerus menang maka Romawi terus bertambah kuat dan besar.

Lalu apa rahasianya sampai Romawi bisa terus menerus menang?

Well... sebenarnya romawi cukup banyak menderita kekalahan. untuk soal ini Republik dan gaya militernya yang bukan kasta kesatria tetapi mengandalkan pada citizen soldier terbukti menjadi senjata makan tuan karena terlalu idealis. faktanya mereka yang sehari-hari bekerja sebagai petani atau filusuf ketika diharapkan menjadi prajurit dan jendral dalam perang akibatnya bisa fatal.

Ditambah lagi dengan kebijakan pergantian konsul yang juga pemimpin militer disertai dengan perekrutan prajurit untuk dinas militer baru membuat keahlian tempur mereka selalu dalam kondisi tidak optimal. terlatih ya, tetapi jarang berpengalaman. legiun baru mengandalkan pada para veteran yang secara sukarela mengambil masa dinas lagi tetapi jumlahnya tidak besar karena di era republik prajurit karier masih belum berkembang.

Kemampuan Romawi yang bisa dibilang payah itu terus menerus menjadi mangsa pasukan yang berjumlah lebih kecil dan lebih buruk perlengkapannya tetapi memiliki pengalaman tempur dan kepemimpinan militer yang prima. seperti pada Perang Punic 2 Romawi begitu frustasi karena jumlah dan kualitas militer mereka yang superior ternyata tidak mampu melawan pasukan Hannibal yang berjumlah lebih kecil dari mereka.
Battle of Cannae
Di Cannae 70 ribu Legiuner Romawi menjadi korban dalam 1 hari, angka yang tidak pernah terulang lagi dalam sejarah

Tetapi ada hal yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya yang pada akhirnya membuat Romawi unggul. sejarah menuliskan bahwa Romawi di era Republik tidak jaya dengan mengalahkan lawan yang jauh lebih besar darinya seperti Alexander the Great. Romawi menjadi jaya karena tidak pernah kehabisan prajurit walaupun terus menerus dikalahkan oleh lawan yang lebih hebat darinya.

Perang melawan Hannibal memakan puluhan ribu demi puluhan ribu pasukan Romawi pada setiap kekalahan. nyaris 100 ribu per tahun warga Romawi menjadi korban dalam perang. sebuah jumlah yang fantastis, kekalahan yang teramat besar bahkan di jaman modern sekalipun. bagi bangsa manapun kekalahan semacam itu hampir pasti menandakan kehancuran sebuah bangsa. tetapi Romawi mengalami 3x kekalahan serupa berturut-turut namun tetap kokoh berdiri.

Setiap kehilangan 100 ribu prajurit warga Roma mampu menghimpun 100 ribu lagi untuk berperang di tahun berikutnya. kemampuan ini adalah hasil dari kebijakan buka pintu dan kewarganegaraannya yang berjalan dengan sangat baik. kedua hal tersebut menyebabkan kekuatan SDM Romawi begitu superior karena tidak hanya mengandalkan pada suku asli, kawan dan sekutu tetapi juga mantan lawan yang menjadi warga negara.

Begitu dahsyat SDM Romawi sehingga pada waktu yang bersamaan dengan kekalahan terbesar mereka, Roma masih mampu menjalankan perang di 3 tempat lainnya melawan kerajaan yang berbeda. militer Romawi bagaikan mesin perang yang terus bangkit dari kematian walaupun terus menerus dikalahkan dengan telak. hal ini membuat lawan-lawannya kelelahan karena tidak mampu mengimbangi jumlah lawan yang tampak tidak pernah habis.

Mungkin pernyataan Raja Pyrrus dari Epirus sebelum era Perang Punic ketika Romawi masih kekuatan kecil di Italy paling menggambarkan situasi ini. ketika itu sang raja baru saja menang perang ke 2 melawan Romawi. ada yang mengucapkan selamat dan mendoakan semoga ia bisa menang lagi melawan Roma. tetapi Pyrrus justru menjawab, "Kemenangan seperti ini sekali lagi akan membuat kita semua hancur."
pyrrus of epirus battling roman
Barisan Phalanx profesional Yunani (kanan) melawan warga-prajurit Romawi

Sebutan Pyrric Victory lahir dari kejadian tersebut. kemenangan Pyrrus atas Romawi begitu menelan korban jiwa di pihaknya sehingga basis kekuatannya berkurang secara drastis. prajurit terlatih miliknya tidak diciptakan dalam waktu singkat sedangkan Romawi tampak tidak pernah kehabisan penduduk untuk dijadikan prajurit. suatu kemampuan yang fenomenal padahal pada era tersebut Republik Romawi masih dianggap kekuatan kecil yang belum diperhitungkan

Republik menjadi besar karena membuka diri terhadap pengungsi dan pelarian tetapi lambat laun fakta ini dilupakan oleh mereka. pada masa imperium Romawi semakin menutup diri dan berlaku eksklusif, menerima suku pelarian hanya untuk menjadikan mereka prajurit tetapi tidak berlaku adil terhadap populasi mereka yang tidak diterima sebagai bagian dari kependudukan Romawi. ketidakpuasan menjadi tinggi karena diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.

Pada masa berikutnya kewarganegaraan romawi semakin sulit diperoleh, bahkan beberapa suku besar tidak pernah ditawarkan karena dianggap terlalu asing. hal ini membuat suku-suku tersebut bersatu dengan membentuk konfederasi yang kemudian mengancam imperium Romawi. akhirnya modal kekayaan dan populasi dari jaman republik habis lalu imperium harus terpecah karena konflik perbatasan yang menyerap habis sumber daya mereka.

Ironisnya sejarah hampir kembali terulang. dewasa ini eropa, amerika dan negara lainnya cenderung melakukan hal yang sama terhadap para pengungsi. padahal dengan menutup pintu, mereka sama saja menolak bantuan tenaga yang datang dan justru memberikannya kepada musuh. pengungsi yang ditolak tidak punya lagi tujuan dan karenanya mudah memendam kebencian sehingga mudah diperalat untuk tindakan aksi radikal dan terorisme.

Dalam hal ini mungkin dunia perlu kembali belajar dari kisah awal sekumpulan masyarakat pelarian dan pengungsi yang bernama Romawi. bagaimana mereka berjaya karena menerima kaum terbuang, pelarian dan pengungsi dengan tangan terbuka. dan bagaimana mereka hancur karena menolak.


Jumat, 28 Oktober 2016

Cup-Bearer, Pembawa Gelas Kerajaan yang memiliki pengaruh setara Perdana Menteri

Penguasa di eropa dan persia selalu memiliki seorang cup-bearer untuk membawakan minuman dan gelas favoritnya kemanapun mereka pergi. sekilas terlihat sebagai profesi yang nggak penting. hanya membawa gelas dan menuangkan minuman, memang untuk raja tetapi tidak terlihat rumit atau membutuhkan keahlian khusus. tetapi catatan sejarah menyebutkan bahwa profesi tersebut adalah salah satu posisi penting dan berpengaruh dalam struktur kerajaan.

Tugas sebenarnya dari seorang cup-bearer adalah melindungi rajanya dari ancaman racun. karena itu dapur kerajaan berada dalam pengawasannya baik secara langsung ataupun dengan bantuan asistennya. urusan who, what, where, when, how dalam persiapan dan proses memasak selalu menjadi perhatiannya. tidak luput juga soal kesehatan juru masak, kebersihan dapur hingga rasa dan tampilan dari masakan.
silver goblet in a medieval feast
Cup, Goblet atau Chalice yang berarti cawan atau gelas menjadi bagian dari nama profesinya

Demikian penting fungsi dari seorang cup-bearer sehingga pada abad pertengahan mereka biasa dipilih dari bangsawan kelas menengah. status yang disandang membuat perintah dan kekuasaannya tidak disangsikan oleh pekerja istana yang menjadi bawahannya. uniknya lukisan era renaissance seringkali memperlihatkan sosok cup-bearer sebagai anak kecil, wanita atau budak. padahal profesi yang asli disandang oleh golongan ningrat yang cukup terpandang.

Tidak hanya bergelut di dapur sang bangsawan pembawa gelas juga ikut serta kemananpun sang raja pergi. sesuai prosedur raja tidak akan minum dari gelas selain dari yang sudah disiapkan untuknya. apabila ada pemberian ketika berkunjung ke luar istana maka sang cup-bearer akan mencobanya terlebih dahulu sebelum dinikmati oleh sang raja. hanya minuman dan makanan yang berada di bawah pengawasannya yang dianggap bersih dari racun.

Raja sangat bergantung pada cup-bearer untuk menyediakan semua kebutuhan perutnya. demikian tergantung sehingga pada pagi hari sekalipun sebelum memulai aktivitas ia akan mengganjal perut dengan makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh cup-bearer di malam sebelumnya. hanya pada saat tersebut sang raja makan tanpa ditemani oleh sang pembawa gelas. selanjutnya sang cup-bearer akan selalu berada di sisinya sepanjang hari.

Seorang cup-bearer lumrah ikut serta dalam berbagai kegiatan kerajaan, entah itu berkuda, berburu, mendengarkan sidang kenegaraan atau ketika mengadakan kunjungan kerja. selain dari menyiapkan makanan ketika tiba jam makan, ia juga siap sedia untuk menawarkan minuman penyegar dan kudapan favorit sang raja ketika dibutuhkan. tugasnya baru berakhir ketika jamuan makan malam selesai dan raja sudah beristirahat di kamar tidurnya.
medieval feast
Suasana jamuan makan ala feodal pada abad pertengahan di eropa

Dalam melakukan tugas utamanya cup-bearer lebih mengandalkan pada inderanya daripada alat bantu seperti sendok perak. ia akan memeriksa makanan atau minuman sebiasanya dari aroma, perubahan warna, atau tampilan sebelum dicobanya sendiri. setelahnya ia akan menimbang apakah terjadi perubahan pada dirinya seperti pusing, mual-mual atau gejala sakit lainnya yang bisa mengindikasikan adanya racun atau zat berbahaya lainnya.

Ia hanya berharap ada cukup waktu baginya untuk menyadari adanya masalah pada makanan atau minuman sebelum dihidangkan kepada raja. untuk meminimalisir risiko ia mencoba minuman seperti anggur di pagi hari ketika masih ada cukup waktu untuk mempertimbangkan kebersihan dari minuman tersebut. apabila dinilai aman maka ia akan membawa bekal minum seperlunya dan bisa menuangkannya kepada raja tanpa perlu mencicipinya lagi.

Sedangkan untuk makanan tidak bisa tidak memang harus dicicipi sesaat sebelum dihidangkan. tetapi dalam hal ini ia tidak sendiri melainkan dibantu oleh juru masak serta regu dapur dalam memastikan keamanan dari bahan makanan dan proses masak yang menjadi tanggung jawab dapur kerajaan.

Seiring dengan waktu dan sifat dari tugasnya yang menyangkut hidup-mati sang raja serta adanya kesempatan untuk selalu berada di dekatnya membuat hubungan mereka terjalin dengan akrab. bukan lagi sekedar pembawa gelas atau detektor racun berjalan, cup-bearer menjelma menjadi sahabat terdekatnya. hanya kepadanya sang raja bisa bergosip, berdiskusi atau ngedumel persoalan pribadi tanpa perlu diketahui oleh siapapun.
ganymede offering wine to zeus in eagle form
Zeus menjadi elang dan menculik Ganymede, pemuda terganteng untuk dijadikan cup-bearer, mengungkap sisi lain dari  profesi ini

Peran sebagai orang kepercayaan dan penyimpan rahasia membuat cup-bearer lebih dekat dengan sang raja dibandingkan dengan keluarga kerajaan sekalipun. bahkan seorang ratu tidak menikmati tingkat kepercayaan yang sama karena dianggap berpotensi mewakili kepentingan politik keluarga, klan, atau bangsanya sendiri. karena itu di dalam istana tidak ada orang lain yang bisikannya demikian didengarkan oleh sang raja daripada sang pembawa gelas.

Manfaat dari adanya pihak kedua yang bisa dimintai opini membuat penguasa yang masih muda lumrah mengambil cup-bearer yang lebih berumur. selain dari jaminan pengalaman atau senioritas dalam bertugas mereka juga berguna sebagai penasihat atau mentor pribadi bagi sang raja. konseling mereka bisa membuat sang raja muda terhindar dari kesalahan pemula yang bisa merugikan posisinya.

Tanpa disadari setiap keputusan besar-kecil yang dibuat oleh seorang raja tidak lepas dari campur tangan dari si pembawa gelas yang selalu ada di dekatnya. keraguan di muka mereka akan membuat sang raja menimbang ulang keputusannya sedangkan keyakinan mereka membuat sang raja mantap dalam memutuskan suatu perkara. demikian profesi yang terdengar rendahan bisa menjelma menjadi tangan kanan yang begitu berharga bagi sang raja.

Bersamaan dengan kepercayaan maka datang berbagai posisi penting yang bisa dipercayakan kepadanya. karena di jaman feodal jabatan tidak dipegang atas dasar kompetensi atau kemampuan tetapi atas dasar kepercayaan bahwa orang yang diangkat betulan akan melayani kepentingan sang raja dengan sepenuh hati. hal ini membuat cup-bearer dianggap ideal untuk memegang posisi penting atas nama raja apabila diperlukan.
Nehemiah the cupbearer to persian king
Nehemiah, dari seorang terbuang menjadi cup-bearer bagi raja Persia, atas alasan pribadi ia diangkat sebagai gubernur dengan kepercayaan penuh selama belasan tahun

Secara politis posisi mereka termasuk netral dalam struktur kerajaan feodal. sebagai orang terdekat di sisi raja banyak pihak baik kawan ataupun lawan politis yang berusaha menjalin hubungan baik dengannya agar bisa membisiki hal-hal positif tentang mereka kepada sang raja. karena itu cup-bearer secara universal disukai oleh semua pihak di istana sehingga nasibnya relatif bebas dari konflik kecuali dari pesaing yang menginginkan posisi yang sama.

Namun profesi mereka bukan tanpa risiko. maut dalam bentuk racun bisa menjemput secara tiba-tiba dan segala pengalaman mereka tidak akan banyak menolong. mereka bisa membekali diri dengan anti-racun atau antidote yang dipercaya berkhasiat tetapi tanpa mengetahui racun apa yang digunakan maka kemanjurannya dipertanyakan. karena itu ketika sudah berumur mereka memilih pensiun lalu melatih dan mengawasi generasi baru cup-bearer dengan kompetensi yang sama.

Walaupun tidak lagi memangku jabatan cup-bearer tetapi pengaruhnya tidak banyak berkurang selama raja yang sama masih berkuasa. sang mantan pembawa gelas terus menjadi orang terdekat yang paling dipercaya raja untuk berdiskusi atau mendapatkan pendapat dalam mengurus persoalan negara.

Mungkin satu-satunya musuh selain dari racun adalah kebodohan dari sang raja itu sendiri. penguasa sering tertarik dengan makanan atau minuman eksotis yang dipersembahkan kepadanya oleh utusan atau saudagar asing. sesuatu yang belum pernah dicoba memang memiliki keasyikannya sendiri tetapi belum tentu bersahabat dengan bakteri di perut. hal ini bisa membuat cup-bearer merana karena siksaan diare dan gangguan pencernaan lainnya.


Rabu, 05 Oktober 2016

Makan Enak, Gaji Besar, Tinggal di Istana, Tapi Jarang Ada yang Mau, Kisah Food Taster Kerajaan

Penguasa yang mengaku dirinya sebagai jelmaan dewa sekalipun tetap butuh makan dan minum layaknya manusia biasa. untuk mencukupi kebutuhan tersebut beragam bahan makanan terbaik dari seluruh penjuru negeri akan disiapkan untuknya. dibuat dari bahan terjamin dan diolah oleh regu dapur yang terpercaya. pokoknya bukan sekedar sehat tapi juga maknyuss... tetapi bagi para penguasa urusan makan bukan sekedar rasa ataupun selera.
qing dynasty civil officer
Pegawai kekaisaran yang menjadi pekerja di belakang layar untuk memenuhi semua kebutuhan istana

Raja atau kaisar selalu memiliki lawan politik yang secara diam-diam iri dengan kekuasaannya dan mengharapkannya lenyap. karena itu ancaman dan potensi kecurangan pihak lawan selalu ada dalam pikiran penguasa, baik yang berasal dari luar ataupun dari dalam keluarganya sendiri. mereka yang berhati-hati akan selalu mengkhawatirkan adanya racun pada setiap makanan dan minuman yang disiapkan untuknya.

Sebagai solusi beberapa prosedur dijalankan seperti keharusan bagi juru masak untuk memakan masakannya sebelum disajikan kepada penguasa. selain untuk mengetes rasa prosedur ini juga berguna sebagai membuktikan tidak adanya racun pada masakan tersebut. tugas tersebut kemudian diberikan kepada rumah tangga ratu karena juru masak tidak memiliki kekuatan politis dan sarat menjadi korban dalam intrik politik kerajaan.

Hal di atas membuat rumah tangga sang ratu bertanggung jawab penuh untuk menyiapkan semua makanan untuk sang raja. ketika makan sang ratu akan lebih dulu mencicipi lauk yang ada di hadapan sang raja sebagai pembuktian bahwa makanan layak dikonsumsi dan yang terpenting bebas dari racun. baru kemudian raja akan minum lalu menikmati hiburan musik, tarian atau ngobrol selama beberapa saat sebelum menyentuh makanan tersebut.
ottoman sultan feasting with janissaries
Sultan Ottoman bersama korps Janissaries-nya yang menjadi rumah tangga kesultanan

Alasannya tidak lain untuk memperhatikan apakah sang ratu tampak normal ataukah ada gejala keracunan makanan. apabila sang ratu terlihat pusing atau pucat maka acara makan tersebut akan dihentikan, lalu akan ada koki yang sangat ketakutan sepanjang malam berharap cemas sang ratu hanya migrain biasa. karena kalau tidak kepalanya bisa copot karena dicurigai berniat jahat.

Hanya para raja yang betul-betul perhatian dengan prosedur makan di atas yang terbebas dari usaha pemberian racun oleh lawan-lawan politiknya. namun praktik ini tidak selalu populer karena membutuhkan sosok ratu yang terpercaya padahal seorang raja lumrah menikah dengan keluarga lawan politik atau bangsa lainnya untuk memelihara kedamaian. akibatnya ratu sekalipun belum tentu bisa dipercaya penuh karena memiliki kepentingan politisnya sendiri.

Selain dari hal di atas banyak juga raja yang tidak tega melihat ratu yang menjadi pasangan hidupnya, ibu dari anak-anaknya menjadi kelinci percobaan setiap kali ada acara santap makan. kebiasaan ini juga tidak praktis karena rombongan ratu harus selalu ikut kemanapun raja harus pergi jauh hanya untuk mengurusi urusan makanan. kebiasaan ini kemudian dirubah, tugas masak diberikan kepada rumah tangga raja yang membentuk dapur kerajaan.
korean royal couple
Tidak selalu formal dan kaku, pasangan kerajaan banyak juga yang cair dan penuh kehangatan

Adanya dapur kerajaan yang menempel pada rumah tangga sang raja mendorong berkembangnya posisi tester makanan profesional atau food taster. mereka adalah individu pilihan yang dapat mendeteksi racun atau hal yang tidak normal pada suatu makanan atau minuman. selain dari memiliki modal kemampuan di atas mereka juga dipilih berdasarkan dari potensi kemungkinan berniat jahat terhadap penguasa.

Hal-hal seperti apakah para taster memiliki hubungan dengan lawan politik, berasal dari keluarga yang pernah dihukum oleh kerajaan, atau latar belakang kehidupannya sampai dengan titik tersebut akan diperiksa oleh biro keamanan. faktor yang tidak ilmiah pun turut menyumbang peran, seperti tanggal kelahiran lalu penerawangan menurut ahli zodiak, dsb-nya. karena menyangkut hidup mati seorang penguasa maka pengecekan akan dilakukan semaksimal mungkin.

Demikian ketat sehingga seorang calon taster bisa gagal hanya karena ia memiliki tahi lalat di area tertentu di wajah yang membuatnya dinilai mudah berbohong oleh ahli baca wajah. kemudian seluruh aspek kehidupan para taster mulai dari gaji, status sosial, kehidupan keluarga dan masa depannya dibuat sangat tergantung dengan diri sang penguasa secara pribadi. andaikata sang kaisar jatuh sakit bukan hanya pekerjaan dan gaji para taster yang dipertaruhkan tapi juga nyawa.

Sebagai profesional para calon taster akan merangkak dari level terbawah sebagai bagian dari anggota dapur kerajaan untuk mempelajari tentang teknik memasak dan dunia kuliner kerajaan secara umum. ia akan mempelajari semua seluk beluk tentang isi dapur luar dan dalam. tempat penyimpanan, tempat cuci, area masak, beserta siapa-siapa yang bertugas dan bertanggung jawab.
medieval royal kitchen
Suasana persiapan makanan di dapur kerajaan eropa pada abad pertengahan

Bagi mereka yang mendapatkan posisi prestisius sebagai taster kerajaan maka pekerjaan dimulai dengan supervisi terhadap bahan makanan yang masuk ke dapur. mereka akan menilai apakah sayur, daging, telur, buah, kecap, saus, bumbu lainnya masih segar dan layak dimasak. hal ini menyangkut tampilan, aroma dan rasa. kemudian ia atau asistennya akan mengawasi proses masak untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah masakan siap barulah mereka sebagai taster melalui ketajaman indera pengecapan dan penciuman yang di atas rata-rata mencicipi masakan tersebut secara langsung. mereka dituntut mampu mendeteksi perbedaan rasa yang paling ringan sekalipun. tidak hanya sebagai pendeteksi racun mereka juga memiliki tugas lain seperti mensensor masakan yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh sang raja.

Pemilihan makanan dilakukan berdasarkan dari pedoman yang dibuat oleh dokter kerajaan. misalnya, apabila pagi ini sang penguasa sedang tidak enak perutnya maka makanan yang terlalu asam dan pedas akan ditolak oleh taster yang bertugas agar jangan sampai secara tidak sengaja termakan. mereka menjadi benteng terakhir apabila dapur kerajaan lalai dalam mengikuti petunjuk atau ketika bagian dapur sengaja dibiarkan tidak tahu karena faktor kerahasiaan.
china dynasty tea ceremony
Upacara minum teh yang juga tidak luput dari pengawasan para taster untuk melindungi pribadi kaisar

Ketika santap makan dimulai para taster akan berdiri di lorong dekat pintu ruangan santap makan lalu mencegat rombongan pelayan pembawa makanan satu per satu. mereka hanya punya waktu beberapa detik untuk melihat, mencium dan mencoba makanan tersebut. seketika itu para taster harus bisa memutuskan apakah makanan tersebut diperbolehkan masuk atau ditolak.

Walaupun makan enak dan bergaji besar serta jaminan hidup dengan status sosial tinggal tetapi hanya yang paling berani yang mau mengambil pekerjaan ini. karena di istana selalu ada intrik politik yang mencoba peruntungan dengan meracuni sang penguasa. hal ini membuat tingkat kematian para taster pada beberapa masa konflik cukup tinggi.

Untuk menghadapi racun para taster mempersenjatai diri dengan sendok atau sumpit yang terbuat dari perak yang dapat mendeteksi beberapa jenis racun melalui perubahan warna. namun lidah dan penciuman mereka adalah senjata yang paling utama. sayangnya lidah adanya di mulut dan racun yang sudah ada di mulut kemungkinan sudah memiliki dosis yang cukup untuk membuat sakit atau membunuh taster naas tersebut.

Pada masa konflik suksesi yang terjadi di beberapa dinasti china dan korea para taster kerajaan memiliki harapan hidup sekitar 3 tahun dalam tugas. selain sebagai bukti bahwa usaha pembunuhan memang selalu nyata, tingginya tingkat kematian tersebut juga terjadi karena para taster bekerja dalam sebuah tim. memang lebih cermat tetapi adanya satu racun akan berakibat fatal bagi semua taster yang bertugas di hari yang sama.
korean royal family eating scene
Keluarga kerajaan memiliki etiket tidak formal untuk mencicipi makanan dan minuman sebelum dinikmati sang raja

Kondisi selalu berubah racun berkembang menjadi jenis yang tidak langsung mematikan. racun jangka panjang diberikan dalam dosis yang jauh lebih kecil sehingga tidak mudah terdeteksi. dibutuhkan waktu beberapa bulan sampai tahunan agar dapat mematikan korbannya. sekilas terlihat gak "ampuh" tetapi justru hebatnya di situ karena jejaknya tidak terlihat. korban tampak seperti sakit-sakitan secara wajar dan tidak meninggal secara mendadak.

Ironisnya racun jenis baru ini justru membuat para taster kerajaan memiliki umur lebih panjang karena mereka tidak bertugas setiap hari dan karenanya terindar dari memakan racun yang sama setiap hari. sehatnya para taster juga menjadi indikasi keliru bahwa sang kaisar kemungkinan jatuh sakit beneran dan bukan karena diracun.

Untungnya racun jenis ini tidak praktis dan sulit dilakukan karena harus terus menerus diberikan sehingga risikonya lebih besar bagi pelaku untuk tertangkap tangan. oleh karena itu racun model "sekali kena langsung KO" masih terus diminati karena hanya membutuhkan satu kali kesempatan atau kelalaian dari bagian dapur untuk bisa masuk ke dalam hidangan sang raja. karena itu tugas dari para taster tidak pernah lepas dari bahaya.


Jumat, 09 September 2016

Ternyata Samurai Berperang Tanpa Perlu Mencabut Pedangnya..

Samurai begitu identik dengan pedang sampai-sampai sebutan yang sama menempel juga pada pedang yang mereka bawa. padahal Samurai adalah sebutan untuk kasta militer, sedangkan pedangnya bernama Katana atau Tachi. demikian juga sering terjadi salah paham mengenai Samurai dan pedangnya yang dianggap sebagai senjata utama atau senjata satu-satunya. padahal samurai memiliki banyak senjata lainnya.
samurai jaman dulu
Pemimpin Jepang kuno terlihat bersenjatakan pedang bersama dengan busur dan panah.

Pada era kuno dan awal sejarah Samurai, kebanyakan pertempuran dilakukan tanpa seorang kesatria perlu mencabut gagang pedangnya. sejarah mencatat sejak keluar dari jaman purbakala kaum pejuang di Jepang memiliki senjata andalan yakni busur dan panah. senjata ini dianggap ideal karena mampu menyerang lawan dari jarak jauh tanpa harus membahayakan diri sendiri. orang yang mampu menggunakan senjata ini dengan mahir akan sangat dihargai.

Inilah salah satu faktor lahirnya kaum Bushi yang menjadi cikal bakal kasta Samurai. faktor lainnya adalah budidaya kuda yang semakin berkembang sehingga membuat adanya 2 keahlian yang dianggap berharga bagi seorang kesatria, berkuda dan panahan. seorang yang mampu melakukan panahan dari atas kuda dinilai sebagai kesatria ideal. selama beberapa abad kaum Bushi berkuda dengan senjata panahan merajai konflik di seantero negeri Jepang.

Batasan populasi pada era kuno membuat konflik yang terjadi pada era tersebut hanya melibatkan sejumlah kecil prajurit. sekedar ratusan orang pada setiap kubu sehingga barisan infantri semacam phalanx menjadi kurang efektif. hal ini membuat kavaleri ringan kaum Bushi yang bersenjatakan busur-panah menjadi sangat efektif. ketika ini kaum Bushi tersebut mulai dikenal sebagai Samurai karena menerima perintah (menjadi abdi) dari penguasa lokal dan daerah.
samurai berkuda dengan busur dan panah
Seorang samurai di abad pertengahan dengan busur dan panah

Dalam pertempuran mobilitas dari kuda membuat mereka mampu menghampiri dan menyerang barisan lawan dengan mudah. infantri yang tidak seberapa besar hanya bisa membentuk formasi bundar dengan perisai kayu untuk bertahan dari serangan panah. para Samurai berkuda akan terus memberikan tekanan dengan memanah dan menunggang kuda semakin dekat dengan barisan infantri agar lawan terpancing mengejar mereka.

Prajurit pejalan kaki yang terpancing mengejar akan tewas dihabisi karena walaupun tampak tidak cepat tetapi kuda memiliki stamina yang jauh lebih baik. Samurai berkuda setelah menjaga jarak bisa menghadiahi pengejar mereka yang kelelahan dengan panah. ada nasihat kuno bahwa seorang pelari terbaik pun tidak akan mampu mengejar seekor kuda, bahkan pemain tombak dan pedang terbaik pun tidak bisa bergerak lebih cepat daripada anak panah.

Satu-satunya yang mampu menghadapi Samurai berkuda adalah sesamanya Samurai berkuda. dalam perang menang-kalah suatu pihak diputuskan oleh hasil duel panahan antar Samurai. kubu yang kehilangan pasukan berkudanya dipastikan menjadi pihak yang kalah karena infantri yang tersisa hanya akan menjadi korban dari tembakan panah para Samurai tanpa bisa balas menyerang. mundur pun tidak bisa karena terus dikejar dan ditembaki panah dari jauh.
yabusame
Olah raga panahan berkuda, Yabusame yang masih dilestarikan hingga zaman modern

Masa keemasan Samurai berkuda dengan busur dan panah berakhir seiringan dengan naiknya populasi. surplus pangan akibat dari reformasi pertanahan membuat banyak tenaga kerja yang bisa digunakan sebagai prajurit. ditambah lagi dengan membaiknya produktivitas lahan sehingga para tuan tanah atau Daimyo mampu memberi makan prajurit dalam jumlah besar. hal ini membuat jumlah pasukan dalam pertempuran membengkak dari ratusan hingga ribuan dan puluhan ribu.

Belasan ribu pasukan infantri bisa membentang luas seperti phalanx yunani sehingga mampu menghalangi gerak pasukan berkuda bagaikan tembok raksasa. mobilitas pasukan berkuda menjadi kurang berguna karena tidak bisa leluasa bergerak. pada periode ini mulai dikenal Samurai model lain yakni Samurai pejalan kaki. kasta kesatria berubah fungsi menjadi ahli pertempuran jarak dekat antar barisan infantri, tetapi senjata pilihan mereka bukanlah pedang.
 
Pada masa peperangan besar (Sengoku Jidai) yang menjadi senjata pilihan Samurai pejalan kaki adalah Yari atau tombak. bisa berjenis naginata khas Jepang dengan mata seperti pisau besar atau mata tombak model lainnya. tombak berguna untuk menghadang pasukan berkuda juga sangat efektif dalam pertempuran melawan sesama infantri. berbeda dengan bangsa lainnya di Jepang keterbatasan fisik dari kuda mereka membuat evolusi ke arah kavaleri berat tidak terjadi.
peragaan samurai di zaman modern
Samurai membawa tombak atau naginata sebagai senjata pegangan wajib

Tombak menjadi senjata pilihan karena memiliki jangkauan yang lebih daripada senjata sejenis pedang. tentu busur dan panah masih terus digunakan tetapi barisan infantri ketika itu sudah demikian rapat dan menggunakan pelindung kayu sehingga efektivitas dari anak panah merosot drastis. apalagi alat perlindungan pribadi semakin umum dan digunakan secara luas, ketika itu prajurit rendahan sekalipun sudah memiliki helm logam dan body armor.

Alasan lainnya adalah kekuatan dalam penggunaan tombak yang jauh lebih besar karena bisa digunakan dengan dua tangan secara maksimal. panjang batang tombak juga memberikan area kontrol yang lebih baik serta momentum yang lebih berisi daripada pedang. tombak juga berguna untuk menghalau musuh agar tidak mendekat sehingga apabila dikehendaki suatu formasi bisa bertahan tanpa personilnya harus terjebak dalam duel perorangan.

Lalu apakah pedang betul-betul tidak digunakan?

Pada jaman itu pedang berperan sebagai senjata perlindungan pribadi karena jarak jangkaunya yang begitu pendek. baik Katana ataupun Tachi baru digunakan ketika senjata lain sudah rusak (hilang) atau ada lawan yang berhasil mendekat sehingga tombak menjadi kurang berguna. pedang dinilai sebagai sebuah senjata darurat yang situasional, hanya ketika terdesak dan kegunaannya juga terbatas sehingga dalam pertempuran belum tentu digunakan.
samurai on turret using crossbow
Samurai menggunakan berbagai macam senjata, dari crossbow mekanis hingga batu sekalipun

Tidak hanya soal pedang yang bukan merupakan senjata utama ataupun senjata 1-1 nya bagi seorang Samurai, pada era yang sama mereka juga tidak memiliki aturan baku tentang senjata yang boleh atau tidak boleh digunakan. segala jenis senjata dari crossbow hingga meriam eropa sah-sah saja digunakan oleh mereka tanpa harus malu atau kehilangan kehormatan. kultus terhadap pedang baru terjadi di era keshogunan Tokugawa setelah peperangan berakhir.

Hal itupun lebih bersifat filosofis daripada praktis. disebabkan oleh masa damai yang membuat para Samurai menganggur akibatnya mereka berusaha mencari jadi diri sebagai pembenaran atas kehadirannya sebagai atasan dari kelas sosial lainnya. muncullah kode bushido yang menekankan pada kehormatan, kepatuhan, dan loyalitas yang membedakan mereka dari lapisan masyarakat lainnya. berujung pada tradisi seppuku atau harkiri daripada menanggung malu.

Pedang Katana menjadi simbol dari pemikiran tentang kehormatan tersebut. padahal sebelum era Tokugawa melarikan diri dari perang saja lumrah dilakukan oleh Samurai apabila perang tidak dapat dimenangkan. masih ada hari esok pikir mereka daripada mati konyol memaksakan perang yang sudah pasti kalah. tipu muslihat pun lumrah untuk dilakukan, boleh dibilang Samurai yang sebenarnya tidak terbelenggu oleh pemikiran konyol semacam itu.


Rabu, 24 Agustus 2016

Mitos Ketajaman Pedang Katana (Samurai)

Seringkali terjadi kesalahpahaman mengenai ketajaman pedang Katana yang dibuat oleh bangsa Jepang. hal ini terjadi karena propaganda era perang dunia 2 yang tersebar melalui gosip dari mulut ke mulut kemudian lestari dalam cerita, novel, film, game dan media lainnya. "pedang samurai" selalu diperlihatkan sebagai sebuah senjata tajam berkualitas tinggi yang memiliki ketajaman super sehingga mampu membelah berbagai macam benda dengan mudah.

Jangankan sekedar memotong pedang ataupun baju pelindung (armor), banyak yang mempercayai bahwa laras senjata mesin yang terbuat dari baja sekalipun bisa dipotong oleh pedang samurai ini. tentu klaim-klaim semacam ini tidak lebih daripada gosip, imajinasi pengarang atau mitos sesat saja. kenyataannya Katana sebagai sebilah senjata tajam yang terbuat dari logam tetap memiliki batasan dan kelemahan yang sama dengan produk logam lainnya.
bagian pedang katana
Bagian-bagian dari Katana serta beberapa teknik konstruksi laminasi

Seperti halnya pedang yang dibuat oleh peradaban lainnya, Katana memiliki sifat, karakteristik dan kelemahan yang relatif sama. seperti pantangan untuk menghantam objek keras seperti helm, armor atau pedang lainnya dengan sekuat tenaga agar tidak merusak mata potong dan bilah itu sendiri. khusus Katana bahkan terhadap objek "lunak" sekalipun (misal sebatang bambu latihan) pantang digunakan secara sembarangan dengan sekuat tenaga.

Disebutkan bahwa Katana digunakan dengan teknik ayunan seperti gerakan pemancing yang melemparkan mata kail dengan joran. tenaganya harus terkontrol dengan baik, tidak penuh tenaga. alias tidak digunakan seperti halnya memotong kayu dengan golok atau kapak. karena apabila digunakan dengan sembrono Katana justru lebih rawan rusak daripada pedang buatan eropa atau bangsa lainnya.

Menguatkan hal ini ada dokumen dari era peperangan besar di Jepang era yang dikenal sebagai sengoku jidai yang menyebutkan berbagai jenis kerusakan pada Katana dan Tachi, jenis pedang lain yang lebih tua. macam kerusakan dimulai dari bilah yang disebutkan gompal, bengkok, patah sampai dengan yang dituliskan hancur berkeping-keping.

Sebenarnya sebagai sebuah senjata, Katana lebih banyak menuntut dalam artian membutuhkan keahlian tinggi penggunanya agar dapat digunakan dengan "aman". pengguna yang kurang terlatih bisa dengan mudah merusak pedangnya sendiri karena material baja dalam Katana tidak sebaik yang dimiliki oleh peradaban lainnya. kelemahan baja Katana ini bersumber dari rendahnya kualitas bahan baku besi yang ada di kepulauan Jepang.
tamahagane
Bongkahan baja Tamahagane, bahan baku pedang Katana tradisional

Kepulauan Jepang hanya memiliki pasir besi yang kemurniannya sangat bervariasi. pasir tersebut dimurnikan menjadi bongkahan baja tamahagane yang mewarisi masalah kemurnian beserta kandungan karbon yang tidak seragam. hal ini menyulitkan produksi pedang karena tiap bongkahan baja memiliki sifat yang berbeda. ada yang lunak dan bersifat lebih fleksibel seperti per daun, ada yang kekerasannya cukup, ada pula yang begitu keras (brittle) sehingga mudah pecah.

Metode pemurnian pasir besi yang mereka miliki juga tergolong tidak efisien karena hanya bisa menghasilkan beberapa persen baja berkualitas baik dari seluruh bahan baku yang digunakan. dari 1 ton pasir besi hanya beberapa Kg tamahagane yang bisa didapatkan. sebuah proses yang memakan waktu berhari-hari dengan hasil yang tidak seberapa. karena itu prosesnya diisi dengan upacara ritual agar memaksimalkan peruntungan dan nasib baik.

Pengolahan baja semacam ini sudah ditinggalkan oleh peradaban lainnya berabad-abad sebelumnya karena ketersediaan bahan baku dan teknik pengolahan logam yang lebih baik. di Jepang karena sulitnya mengimpor bahan baku besi dari luar maka teknik pengolahan tradisional tetap bertahan. hal ini membuat para pengrajin pedang di Jepang terpaksa menyempurnakan teknik yang ada untuk mengakali buruknya bahan baku yang mereka miliki.
traditional steel forging
Keahlian pandai besi tradisional yang masih dilestarikan untuk keperluan study & pariwisata

Tidak menyerah dengan hambatan yang ada, para ahli pedang menyempurnakan teknik multiple folding dan laminasi untuk memaksimalkan bahan baku yang ada. multiple folding dilakukan untuk membuang ketidakmurnian dan menyamakan kekerasan dari bilah yang sedang dikerjakan. sedangkan laminasi bertujuan untuk membuat struktur bilah yang ideal dengan menggunakan kombinasi logam lunak, sedang dan keras.

Baja yang bersifat keras digunakan untuk bagian edge atau mata pisau. semakin keras maka ketahanan atau retensi ketajaman dari mata pisaunya semakin awet. kekurangannya adalah mudah pecah karena brittle atau "garing". karena itu logam yang lebih lunak digunakan sebagai tubuh atau tulang. baja lunak mampu memberikan fleksibilitas seperti per yang mampu menerima benturan sehingga menjaga bilah pedang agar tidak patah.

Dengan teknik laminasi mata pisau bisa saja gompal ketika dihantam dengan keras tetapi pedangnya tidak akan patah dan tetap bisa digunakan. penyatuan baja yang berbeda kekerasan ini memiliki beberapa kombinasi. semakin rumit tentu prosesnya semakin sulit dan membutuhkan keahlian yang lebih tinggi sehingga menjadi langka dan mahal. kebanyakan Samurai hanya menggunakan satu laminasi (Kobuse) atau dua (Honsanmai) karena alasan ekonomi.
laminasi katana
Berbagai jenis laminasi yang mampu dibuat oleh pandai besi Jepang

Katana premium dengan laminasi yang lebih rumit kualitasnya bisa berkali lipat lebih baik daripada yang hanya dua laminasi tetapi harganya luar biasa mahal dan sudah dianggap barang mewah. lebih mirip benda seni atau harta warisan keluarga sehingga tidak diperlakukan  seperti senjata pada umumnya. Katana berkualitas seperti ini hanya dimiliki oleh kaum bangsawan tinggi dan karenanya jarang digunakan secara langsung dalam medan pertempuran.

Bagaimana performa Katana dengan 2 laminasi?

Kemampuan Katana yang dibuat dengan dua laminasi (honsanmai) sudah dianggap menyamai pedang dan persenjataan buatan eropa yang menggunakan biji besi dan teknik pengolahan yang lebih baik. hanya saja apabila bangsa lain bisa memproduksi dalam jumlah besar, pandai besi Jepang dengan teknik multiple folding dan laminasi hanya bisa memproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit dengan ongkos per bilah yang jauh lebih mahal.

Soal kekerasan sebagaimana benda tajam lainnya yang terbuat dari besi logam sebuah Katana lumrah bengkok, gompal atau rusak apabila mengalami benturan keras. seperti halnya mata cangkul yang bisa gompal ketika menghantam batu atau bilah golok yang luka akibat menghantam kulit kayu yang keras, demikian juga Katana mengalami masalah yang relatif sama.

Karena itu Katana yang tajam sekalipun harus pandai memilih-milih sasaran. bagian dari lawan yang dilapisi oleh baju pelindung seperti dada dan bahu serta helm tidak akan diserang. apabila nekat maka bisa dipastikan bilah Katana akan menjadi rusak dan tidak bisa digunakan lagi sebagai senjata. kesalahan semacam ini biasanya dilakukan oleh pemula atau amatir yang tidak terlatih dalam teknik penggunaan Katana atau seni pedang.
samurai in field of battle
Samurai lumrah memulai perang dengan senjata lainnya seperti busur panah dan tombak

Bagi Samurai yang terlatih, yang menjadi sasaran adalah celah-celah bagian pelindung di sekitar leher, ketiak, paha serta bagian sendi / artikulasi lainnya. selain itu lengan juga menjadi sasaran karena memiliki lapisan pelindung yang minimal. sedangkan helm atau ketopong baja serta bagian lainnya yang terbuat dari bahan keras atau logam sebisa mungkin dihindari karena berisiko tinggi untuk merusak bilah pedang.

Di medan tempur seorang Samurai yang membawa Katana bagus sekalipun akan memilih tombak atau naginata sebagai senjata utama untuk memulai pertempuran. selain dari jangkauan dan kekuatan yang lebih baik hal ini juga menjaga Katana mereka aman untuk sementara waktu. karena pada fase awal pertempuran kondisinya demikian kacau sehingga sulit bagi mereka untuk menggunakan pedang dengan teknik yang seharusnya.

Salah-salah karena terlalu bersemangat tidak sengaja menghantam sisi pelindung armor lawan yang tebal sehingga Katana berkualitas baik pun bisa rusak. kalau sudah begitu bisa fatal akibatnya karena sang Samurai tiba-tiba tidak memiliki senjata yang seimbang untuk menghadapi lawannya padahal perang baru saja dimulai. karena itu pedang lebih banyak disimpan sebagai senjata cadangan dan hanya digunakan ketika benar-benar dibutuhkan.

Lalu bagaimana dengan pedang Samurai yang dibawa oleh tentara Nippon Jepang di PD 2?

Ikuti di trit berikutnya ...



* Revisi pertama dengan bantuan bro SatsuJinKen, Kaskus SF Pisau. diskusi dan sumber lain atau pertanyaan bisa di alamatkan di link berikut : Kaskus SF Pisau & Hoax Samurai Sabuk


Sabtu, 20 Agustus 2016

Bayangan Hitam Bernama Ninja dalam Sejarah

Sosok yang identik dengan kostum hitam ini menjadi legenda sebagai pembunuh berkemampuan super. mampu memanjat dinding vertikal dengan cakar besi, berlari di atas permukaan air dengan sendal kayu, atau menghilangkan diri dengan bom asap. sekilas terdengar berlebihan tapi anehnya mereka bukan hanya karangan tetapi betul berdasarkan dari dokumen sejarah. namun sejauh mana kemiripannya antara legenda dengan kebenaran sejarah?

Pertama-tama harus diperjelas bahwa sebutan Ninja hampir tidak pernah disebutkan dalam sejarah resmi. bukan berarti rahasia tetapi sejarah resmi menggunakan sebutan Shinobi yang berarti "untuk mencuri" atau "bersembunyi". Shinobi sendiri sudah dikenal setidaknya sejak abad ke 8. artinya mereka sebenarnya lebih tua daripada Keshogunan ataupun kelas sosial Samurai yang baru dikenal beberapa abad setelahnya.
ninja shinobi
Penampilan Ninja dalam legenda populer

Pada saat itu semua orang yang memiliki tugas untuk mengumpulkan (mencuri) informasi lumrah disebut sebagai Shinobi. peran sebagai mata-mata ini dijalani tanpa latihan khusus, hanya mengandalkan pada kemampuan per individu yang membuktikan dirinya cerdas atau berbakat sehingga mampu membawa pulang informasi yang berharga.

Ketiadaan latihan dan orientasi pada hasil membuat siapapun bisa menjadi seorang Shinobi bahkan orang tua, wanita ataupun anak-anak. berkembangnya kebutuhan akan mata-mata ini sendiri erat kaitannya dengan datangnya pemikiran dari luar Jepang seperti kitab perang karangan Sun Tzu yang mengajarkan tentang pentingnya pengumpulan informasi dalam masa damai ataupun perang.

Shinobi generasi awal karena ketiadaan pelatihan dan pendidikan khusus membuat kemampuannya terbatas. mereka belum tentu menguasai ilmu bela diri, jarang membawa senjata, tidak juga mengenakan pakaian khusus. apabila ketahuan maka jalan satu-satunya adalah lari dan bersembunyi. hanya ada 1 kasus langka dimana Shinobi mampu membakar markas lawannya.

Selama ratusan tahun Shinobi terus digunakan secara informal seperti buruh musiman, hanya dipanggil kalau ada keperluan (perang). baru pada era Keshogunan Kamakura, Shinobi mulai digunakan secara fromal. sekarang mereka bekerja sepanjang tahun dengan penugasan yang resmi. hal ini akan membawa dampak yang besar bagi generasi selanjutnya.
real ninja undercover as farmer
Kiri kostum drama, kanan bagaimana seharusnya shinobi atau ninja bertugas

Peradaban Jepang yang berkembang menjadi feodal dengan tumbuhnya clan dan daimyo di seluruh daerah membuat semakin banyak pihak yang membutuhkan jasa mata-mata. bukan hanya gubernur yang secara tradisional mempekerjakan Shinobi, sekarang tiap clan di daerah juga menjadi pelanggan. adanya jaminan lapangan pekerjaan membuat tiap Shinobi bersemangat untuk melatih keluarganya untuk mengikuti jejak langkahnya.

Generasi baru Shinobi pun muncul, sedari kecil sudah dilatih untuk menjadi seorang mata-mata. mereka diwarisi kemampuan yang berasal dari pengalaman ayah, paman dan kakeknya. lowongan pekerjaan tersebut juga membuat banyak penduduk sekitarnya untuk alih profesi menjadi Shinobi terutama yang tinggal di pegunungan dengan sedikit lahan subur.

Konflik era feodal membawa banyak keuntungan bagi para Shinobi sehingga desa-desa asal mereka bisa berkembang dengan pesat. pada beberapa daerah bisa terdapat sampai dengan seratus desa yang khusus mencetak Shinobi profesional. lama-kelamaan jumlah mereka melebihi lowongan pekerjaan yang ada sehingga lumrah terjadi kompetisi untuk sebuah lowongan.

Hal ini berujung pada konflik berdarah antar desa Shinobi yang tampak dibiarkan oleh penguasa daerah. mereka melihatnya sebagai sebuah seleksi, "biarlah yang terbaik yang dipekerjakan" begitu pikir mereka. hal ini membuat konflik demikian brutal sehingga tiap desa sampai merasa perlu untuk membuat tembok layaknya benteng untuk melindungi warga desa dari serangan tetangga mereka.

Konflik tersebut akhirnya menjadi ajang pembuktian kemampuan dari generasi baru Shinobi yang jauh lebih terlatih dan ahli daripada sebelumnya. para profesional ini terlatih dalam seni penyamaran, bela diri tangan kosong, berkuda, penggunaan racun, bahan peledak, hingga penggunaan berbagai jenis senjata, ilmu astrologi praktis serta psikologi dasar.
map of koga and iga
Koga dan Iga di daerah pegunungan yang strategis karena dekat dengan ibukota Kyoto

Iga dan Koga (Koka) menjadi terkenal karena wilayah tersebut menghasilkan Shinobi profesional dengan kemampuan seperti di atas. berawal dari peperangan di era Keshogunan Ashikaga dimana disebutkan adanya samurai desa yang membantu usaha pemberontakan seorang tokoh lokal. mereka berhasil menahan laju pasukan keshogunan dengan bergerilya sampai 3 tahun sebelum peperangan ditinggalkan karena shogun keburu meninggal.

Keberhasilan "samurai desa" tersebut dilakukan dengan cara yang tidak konvensional, selain dari gerilya mereka juga senantiasa meneror dan mengganggu pasukan lawan hampir setiap malam. entah dengan membakar ranting kering atau dengan memasang jebakan di sekitar lokasi berkemah. banyak diantara mereka yang melanjutkan profesi sebagai Shinobi.

Naiknya pamor dari Shinobi membuat was-was banyak pihak. potensi usaha pembunuhan menjadi risiko yang semakin diwaspadai. karena itu Shinobi sekarang berperan sebagai bodyguard, sebab ada pemikiran logis bahwa hanya sesama Shinobi-lah yang mampu mendeteksi lawan yang berkeahlian serupa dengan mereka.

Tetapi sebenarnya kebanyakan Shinobi tidak mampu melakukan infiltrasi dan usaha pembunuhan terhadap lawan yang tinggal di tempat terlindung dan dijaga ketat. walau memiliki banyak kemampuan tetapi jelas terdapat perbedaan tingkat kesulitan antara memanjat tembok desa dengan tembok kastil yang memiliki alat pengamanan dan penjagaan yang terbaik di jamannya.
shinobi attempt on assassination
Satu-satunya kesempatan Shinobi adalah ketika sasaran berada di ruang terbuka

Karena itu walaupun memiliki keahlian "super" tetapi dalam perang peranan Shinobi tidak jauh berbeda dengan mata-mata bangsa lainnya. hampir semua kegiatan mereka bertujuan untuk mengumpulkan informasi seperti kondisi jalan di wilayah lawan, lebar jembatan, letak sungai, lokasi barak lawan, gudang perbekalan, hingga jumlah prajurit dan kesiapannya.

Melihat dari tugas yang diberikan maka Shinobi lebih banyak bekerja di siang hari daripada keliaran malam-malam yang justru mudah menimbulkan kecurigaan. bekerja di siang hari menuntut kemampuan untuk menyamar dan bukan kebetulan kalau keahlian utama mereka adalah ilmu penyamaran. demikian penting sehingga calon Shinobi yang tidak menguasai akan dikeluarkan dari pelatihan

Setiap Shinobi diwajibkan menguasai beberapa profesi dengan fasih. mulai dari keahlian praktis, tata cara bicara, bahasa tubuh, hingga pengenaan baju dan perlengkapan lainnya secara ahli. penyamaran mereka bisa sebagai tukang obat keliling yang cerewet, pendeta peziarah yang hafal ratusan doa, pedagang baju musiman, hingga tuan samurai yang pongah dan minta selalu dihormati.

Praktisnya mereka ini ahli akting yang sangat baik. demikian baik sehingga mampu memikat lawan bicaranya sehingga mampu mengorek informasi penting tanpa disadari. dalam penyamaran senjata andalan mereka adalah uang sogokan atau barang mahal sebagai hadiah untuk meraih kepercayaan korbannya.

Setelah datang berkali-kali dan cukup dikenal serta dipercaya, seorang tukang obat keliling bisa dengan mudah menguping atau menanyakan hal-hal yang tampak sepele bagi para pelayan atau prajurit di kastil. seperti bagaimana kondisi kesehatan tuan daimyo, gosip masalah internal dalam keluarganya, hingga kata kunci rahasia untuk keluar masuk pintu belakang.
ninja dressed as samurai
Shinobi yang ahli menyamar menyerang bersamaan dengan rekannya dari luar sehingga lawan dibuat kalang kabut

Lantas bagaimana dengan sabotase atau usaha pembunuhan?

Tidak banyak dan legenda yang ada cenderung berlebihan. bukti paling jelas adalah ketika seluruh desa di wilayah Koga dan Iga yang berkekuatan hampir 200 desa (yang biasanya berantem sendiri) bersatu dengan tujuan yang sama untuk menyerang satu orang. bayangkan usaha gabungan Shinobi terbaik se Jepang. apabila legenda tentang kesaktian Ninja benar adanya tentu tidak sampai berapa hari sudah tamat riwayat orang tersebut.

Nama orang tersebut adalah Nobunaga yang karena kesal dengan plin-plan nya sikap para Shinobi yang juga menjual jasa mereka kepada lawan-lawannya, akhirnya memutuskan untuk menggusur semua desa Shinobi di wilayah Koga dan Iga. ternyata dengan segala keahlian Ninja yang legendaris, mereka tidak mampu melukai seorang Nobunaga.

Hanya ada satu kejadian ketika seorang Shinobi berhasil menyusup lalu menembak dengan musket sniper modifikasi. sayangnya tidak mempan terhadap nanban armor sang daimyo. Shinobi lainnya bahkan sama sekali tidak berhasil mendekat. padahal Nobunaga tidak bersembunyi di kastil tetapi ikut serta bersama pasukannya ke pegunungan dan hutan di wilayah Iga yang tentu dikenal dengan sangat baik oleh para Shinobi.

Kedua desa tersebut akhirnya hancur di tangan Nobunaga. uniknya pada suatu saat Nobunaga mencoba menugaskan Shinobi yang paling terkenal yakni Hatori Hanzo untuk menghabisi daimyo lainnya. walaupun mampu menyelinap masuk ke wilayah dan kastil sasarannya (Takeda Shingen) tetapi ia gagal dalam eksekusinya. setidaknya bagaimana ia mampu melarikan diri dari kastil lawan ketika dikejar patut mendapat tepuk tangan.
Hattori Hanzo 1-1 nya shinobi yang tercatat dalam sejarah

Sejarah mencatat bahwa kemampuan Shinobi lebih efektif digunakan dalam wilayah sendiri untuk menjaga keamanan dan pertahanan selain dari menyingkirkan lawan politik secara rahasia. adalah Tokugawa yang mampu mempekerjakan mereka dengan ahli. ia sedari awal bersedia menerima para shinobi yang desanya dihancurkan oleh Nobunaga.

Mereka dipekerjakan sebagai bodyguard dan turut membantu pertahanan beberapa kastil miliknya dari serbuan musuh. para Shinobi juga digunakan secara efektif untuk mendukung penyerangan terhadap kastil lawan dengan pencurian informasi tentang kondisi kastil tersebut. mulai dari jumlah prajurit hingga sisa perbekalannya bisa diketahui.

Tokugawa sebagai tuan terbaik akhirnya juga menjadi juru kunci bagi tradisi Shinobi yang sudah berumur ratusan tahun. struktur clan dan sistem guild Shinobi dihapuskan setelah perang karena mereka berpotensi menjual jasanya kepada pihak selain dari pemerintahan Tokugawa. para Shinobi diberi pilihan untuk ikut menjadi bagian dari intelijen keshogunan baru atau menjadi warga biasa.

Shinobi yang menerima tawaran tersebut harus menyerahkan kuasa atas tanah garapan di desanya dan pindah ke ibukota. sedangkan yang memilih menjadi warga akan diberikan tanah garapan yang lebih besar tetapi dilarang melatih Shinobi dengan pengawasan yang ketat. perlahan generasi terakhir dari Shinobi hilang seiring dengan berlalunya waktu.


Sabtu, 06 Agustus 2016

Jumlah Prajurit Justru Bertambah Setelah Perang, Mati Satu Tumbuh Seribu..

Seringkali diceritakan tentang pelaku sejarah yang setelah berperang dengan banyak kesulitan, lalu setelahnya (tiba-tiba) tetap memiliki pasukan berjumlah besar untuk peperangan berikutnya. padahal di awal hanya memiliki beberapa ratus orang prajurit, perang mati-matian dan tersisa hanya separuhnya. tapi kemudian memiliki ribuan orang untuk perang selanjutnya, bagaimana bisa?
Qin warfare
Perang di jaman Warring States sebelum unifikasi di bawah dinasti Qin.

Apabila ditemui dalam novel biasanya terdapat elemen time skip atau lompatan waktu ke depan yang tidak diberitahukan ke pembacanya. tiba-tiba saja sang jagoan sudah membawahi sekian ribu atau puluh ribu orang tanpa ada penjelasan yang jelas. film pun sama saja, beberapa adegan lalu tiba-tiba sudah begitu.

Uniknya lagi apabila kejadian yang sama diulang, maka di tiap kemenangan jumlah pasukan sang jagoan akan semakin membengkak. dari awalnya seribu prajurit misalnya, menjadi belasan, puluhan, sampai ratusan ribu orang. semuanya terjadi tanpa penjelasan yang memuaskan mengenai darimana extra pasukan tersebut bisa didapatkan.

Tampak tidak logis karena dalam perang seharusnya sebuah pasukan lumrah kehilangan prajurit apalagi dalam perang besar yang memakan banyak korban. jelas berkurang bukan bertambah. tetapi nyatanya hal ini berdasarkan dari catatan dan dokumen sejarah. bukan hoax penulis novel atau film tetapi benar kenyataan sejarah. lho kok bisa?
ashigaru yang merupakan pokok pasukan di jepang
Prajurit Ashigaru yang jumlahnya membengkak seiringan dengan banyaknya pertempuran yang dimenangkan oleh para Daimyo di Jepang

Untuk memahami "fenomena" ini kita harus melihat komposisi pasukan terlebih dahulu. dalam satu pasukan terdapat elit pasukan atau inti seperti vanguard troops, lalu induk pasukan sekaligus cadangan. dari sejumlah 10 ribu orang berarti komposisi pasukan elit garis depannya (30%) sekitar 3000 orang. sedangkan pasukan utama dan cadangan sekitar 7000 orang.

Apabila dalam perang pasukan elit tersebut hancur maka ke 7000 orang prajurit sisanya biasanya kehilangan motivasi tempur lalu menyerah. hal ini terjadi sebab selain dari vanguard troops, pasukan lainnya merupakan prajurit sekunder yang kurang terlatih dan belum lama jadi tentara. sebagian besar dari mereka adalah rekrutan baru yang digunakan untuk tugas-tugas pendukung.

Pasukan sekunder ini digunakan untuk mengurusi logistik, perbaikan jalan, menjaga camp, menggali sumur, dan memastikan semua proses lainnya lancar sehingga perbekalan makanan dan perlengkapan tempur bisa tersedia di garis depan. sejatinya kemampuan tempur atau kombatan mereka terbilang rendah karena disiplin dan motivasi yang meragukan.

Pada dasarnya mereka gak lebih dari petani, pandai besi, pengrajin kecil, peternak atau kuli bangunan. ikut perang karena alasan tidak sanggup membayar pajak sehingga ikut militer atau tertarik dengan janji ketersediaan makanan, kompensasi gaji dan bonus uang apabila pihak mereka menang. kebanyakan hanya diberikan pelatihan singkat dan peralatan yang seadanya.
great wall of china
Tidak perlu pasukan elit untuk menjaga titik-titik pertahanan dengan efektif

Sifatnya yang hanya sementara membuat mereka berbeda dengan prajurit penuh waktu yang mendalami dunia militer. karena itu kemampuan tempur mereka hanya efektif digunakan apabila bersamaan dengan pasukan yang lebih elit. mereka berguna sebagai force multiplier dalam berbagai situasi khusus dimana kehadiran banyak prajurit diperlukan seperti dalam pengepungan suatu kota atau penjagaan banyak titik-titik pertahanan.

Pasukan sekunder jarang bisa berdiri sendiri sebagai sebuah kesatuan tempur yang utuh. kalaupun dipaksakan dengan perintah atau komando militer biasanya mereka mudah hancur bahkan ketika melawan pasukan lawan yang jauh lebih kecil. mereka juga rawan risiko melarikan diri walaupun dengan ancaman hukuman berat.

Motivasi dan moral yang buruk dimulai dari awal pendirian pasukan yang sering juga disebut sebagai levied troops. seringkali pasukan tersebut dibentuk secara dadakan untuk sebuah perang besar. tidak direncanakan ataupun dilengkapi dan dilatih dengan baik. kesan yang timbul secara internal, asalkan nambah-nambah jumlah prajurit untuk menghadapi atau menakut-nakuti lawan.

Bayangkan pasukan tersebut yang baru beberapa minggu lalu masih berprofesi macam-macam sebagai sipil tiba-tiba harus menghadapi pasukan lawan dalam medan tempur beneran. padahal yang berbeda hanya kemampuan baris-berbaris, seragam dan tombak. apa jadinya? tentu kepanikan dan ketakutan, apalagi kalau pasukan profesional yang mereka anggap elit dihancurkan oleh serangan musuh.

Tamat sudah, pasti segera kecut dan memilih kabur. hal ini selalu terjadi dalam sejarah, baik di romawi-eropa, persia-asia tengah, ataupun dinasti-dinasti china dan jepang. nah, pada kebanyakan kasus pasukan-pasukan pelarian berjumlah besar ini akan diserap ke dalam pasukan pemenang (kecuali ada semacam dendam atau hal-hal khusus lainnya).
upacara menyerahnya suatu pasukan
Ritual penyerahan pasukan yang umum terjadi sebelum dicampur ke dalam pasukan sendiri

Penyerahan pasukan sekunder inilah yang menjadikan suatu pasukan justru bertambah setelah menjalani pertempuran terlepas dari korban jiwa yang dideritanya. semakin banyak perang yang dihadapi asalkan terus menang maka jumlah prajurit bisa terus bertambah. belum lagi karena faktor sistem feodal dimana loyalitas atau kesetiaan lumrah bergeser kepada pemenang.

Adalah wajar bagi para keluarga, kota atau suku feodal yang kalah perang untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada pemenang. dalam pernyataan kesetiaan itu salah satu bukti tulusnya mereka tunduk atau takluk adalah dengan memberikan prajurit terbaik mereka kepada pemenang untuk meraih jasa dalam pertempuran selanjutnya.

Karena itu Alexander the Great dari ribuan orang menjadi puluhan ribu setelah menyerang kerajaan-kerajaan Persia. Cao Cao dari ribuan pasukan menjadi puluhan dan ratusan ribu padahal terus mengalami pertempuran dalam masa 3 kerajaan belum lagi adanya bencana kelaparan. juga bagaimana Nobunaga dan Hideyoshi dari ribuan pengikut menjadi puluhan ribu pasukan ketika menghadapi front barat.
alexander agung menerima penyerahan raja lawannya
Alexander Agung menerima penyerahan seorang raja beserta pasukannya

Lalu apakah penambahan prajurit yang terjadi selalu karena faktor penyerahan pasukan lawan?

Bisa dipastikan demikian. penambahan prajurit dengan cara lain seperti rektrutmen di wilayah sendiri belum tentu efektif selain dari memberatkan kehidupan masyarakat. karena jumlah populasi di era medieval masih sangat terbatas. ditambah dengan produktivitas yang masih rendah sehingga kegiatan yang mendasar seperti pertanian, peternakan, irigasi dan kerajinan kecil menyita sebagian besar tenaga kerja usia produktif.

Hanya sebagian kecil dari populasi yang berkesempatan menjadi prajurit. biasanya kalangan atas yang sudah berkecukupan dalam hal sandang, papan, pangan sehingga bebas memilih profesi lain tanpa membuat keluarganya kelaparan. bagi kebanyakan penduduk lainnya mereka harus bekerja di ladang atau beternak untuk mencukupi makanan sehari-hari.