Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

Ternyata Samurai Berperang Tanpa Perlu Mencabut Pedangnya..

Samurai begitu identik dengan pedang sampai-sampai sebutan yang sama menempel juga pada pedang yang mereka bawa. padahal Samurai adalah sebutan untuk kasta militer, sedangkan pedangnya bernama Katana atau Tachi. demikian juga sering terjadi salah paham mengenai Samurai dan pedangnya yang dianggap sebagai senjata utama atau senjata satu-satunya. padahal samurai memiliki banyak senjata lainnya.
samurai jaman dulu
Pemimpin Jepang kuno terlihat bersenjatakan pedang bersama dengan busur dan panah.

Pada era kuno dan awal sejarah Samurai, kebanyakan pertempuran dilakukan tanpa seorang kesatria perlu mencabut gagang pedangnya. sejarah mencatat sejak keluar dari jaman purbakala kaum pejuang di Jepang memiliki senjata andalan yakni busur dan panah. senjata ini dianggap ideal karena mampu menyerang lawan dari jarak jauh tanpa harus membahayakan diri sendiri. orang yang mampu menggunakan senjata ini dengan mahir akan sangat dihargai.

Inilah salah satu faktor lahirnya kaum Bushi yang menjadi cikal bakal kasta Samurai. faktor lainnya adalah budidaya kuda yang semakin berkembang sehingga membuat adanya 2 keahlian yang dianggap berharga bagi seorang kesatria, berkuda dan panahan. seorang yang mampu melakukan panahan dari atas kuda dinilai sebagai kesatria ideal. selama beberapa abad kaum Bushi berkuda dengan senjata panahan merajai konflik di seantero negeri Jepang.

Batasan populasi pada era kuno membuat konflik yang terjadi pada era tersebut hanya melibatkan sejumlah kecil prajurit. sekedar ratusan orang pada setiap kubu sehingga barisan infantri semacam phalanx menjadi kurang efektif. hal ini membuat kavaleri ringan kaum Bushi yang bersenjatakan busur-panah menjadi sangat efektif. ketika ini kaum Bushi tersebut mulai dikenal sebagai Samurai karena menerima perintah (menjadi abdi) dari penguasa lokal dan daerah.
samurai berkuda dengan busur dan panah
Seorang samurai di abad pertengahan dengan busur dan panah

Dalam pertempuran mobilitas dari kuda membuat mereka mampu menghampiri dan menyerang barisan lawan dengan mudah. infantri yang tidak seberapa besar hanya bisa membentuk formasi bundar dengan perisai kayu untuk bertahan dari serangan panah. para Samurai berkuda akan terus memberikan tekanan dengan memanah dan menunggang kuda semakin dekat dengan barisan infantri agar lawan terpancing mengejar mereka.

Prajurit pejalan kaki yang terpancing mengejar akan tewas dihabisi karena walaupun tampak tidak cepat tetapi kuda memiliki stamina yang jauh lebih baik. Samurai berkuda setelah menjaga jarak bisa menghadiahi pengejar mereka yang kelelahan dengan panah. ada nasihat kuno bahwa seorang pelari terbaik pun tidak akan mampu mengejar seekor kuda, bahkan pemain tombak dan pedang terbaik pun tidak bisa bergerak lebih cepat daripada anak panah.

Satu-satunya yang mampu menghadapi Samurai berkuda adalah sesamanya Samurai berkuda. dalam perang menang-kalah suatu pihak diputuskan oleh hasil duel panahan antar Samurai. kubu yang kehilangan pasukan berkudanya dipastikan menjadi pihak yang kalah karena infantri yang tersisa hanya akan menjadi korban dari tembakan panah para Samurai tanpa bisa balas menyerang. mundur pun tidak bisa karena terus dikejar dan ditembaki panah dari jauh.
yabusame
Olah raga panahan berkuda, Yabusame yang masih dilestarikan hingga zaman modern

Masa keemasan Samurai berkuda dengan busur dan panah berakhir seiringan dengan naiknya populasi. surplus pangan akibat dari reformasi pertanahan membuat banyak tenaga kerja yang bisa digunakan sebagai prajurit. ditambah lagi dengan membaiknya produktivitas lahan sehingga para tuan tanah atau Daimyo mampu memberi makan prajurit dalam jumlah besar. hal ini membuat jumlah pasukan dalam pertempuran membengkak dari ratusan hingga ribuan dan puluhan ribu.

Belasan ribu pasukan infantri bisa membentang luas seperti phalanx yunani sehingga mampu menghalangi gerak pasukan berkuda bagaikan tembok raksasa. mobilitas pasukan berkuda menjadi kurang berguna karena tidak bisa leluasa bergerak. pada periode ini mulai dikenal Samurai model lain yakni Samurai pejalan kaki. kasta kesatria berubah fungsi menjadi ahli pertempuran jarak dekat antar barisan infantri, tetapi senjata pilihan mereka bukanlah pedang.
 
Pada masa peperangan besar (Sengoku Jidai) yang menjadi senjata pilihan Samurai pejalan kaki adalah Yari atau tombak. bisa berjenis naginata khas Jepang dengan mata seperti pisau besar atau mata tombak model lainnya. tombak berguna untuk menghadang pasukan berkuda juga sangat efektif dalam pertempuran melawan sesama infantri. berbeda dengan bangsa lainnya di Jepang keterbatasan fisik dari kuda mereka membuat evolusi ke arah kavaleri berat tidak terjadi.
peragaan samurai di zaman modern
Samurai membawa tombak atau naginata sebagai senjata pegangan wajib

Tombak menjadi senjata pilihan karena memiliki jangkauan yang lebih daripada senjata sejenis pedang. tentu busur dan panah masih terus digunakan tetapi barisan infantri ketika itu sudah demikian rapat dan menggunakan pelindung kayu sehingga efektivitas dari anak panah merosot drastis. apalagi alat perlindungan pribadi semakin umum dan digunakan secara luas, ketika itu prajurit rendahan sekalipun sudah memiliki helm logam dan body armor.

Alasan lainnya adalah kekuatan dalam penggunaan tombak yang jauh lebih besar karena bisa digunakan dengan dua tangan secara maksimal. panjang batang tombak juga memberikan area kontrol yang lebih baik serta momentum yang lebih berisi daripada pedang. tombak juga berguna untuk menghalau musuh agar tidak mendekat sehingga apabila dikehendaki suatu formasi bisa bertahan tanpa personilnya harus terjebak dalam duel perorangan.

Lalu apakah pedang betul-betul tidak digunakan?

Pada jaman itu pedang berperan sebagai senjata perlindungan pribadi karena jarak jangkaunya yang begitu pendek. baik Katana ataupun Tachi baru digunakan ketika senjata lain sudah rusak (hilang) atau ada lawan yang berhasil mendekat sehingga tombak menjadi kurang berguna. pedang dinilai sebagai sebuah senjata darurat yang situasional, hanya ketika terdesak dan kegunaannya juga terbatas sehingga dalam pertempuran belum tentu digunakan.
samurai on turret using crossbow
Samurai menggunakan berbagai macam senjata, dari crossbow mekanis hingga batu sekalipun

Tidak hanya soal pedang yang bukan merupakan senjata utama ataupun senjata 1-1 nya bagi seorang Samurai, pada era yang sama mereka juga tidak memiliki aturan baku tentang senjata yang boleh atau tidak boleh digunakan. segala jenis senjata dari crossbow hingga meriam eropa sah-sah saja digunakan oleh mereka tanpa harus malu atau kehilangan kehormatan. kultus terhadap pedang baru terjadi di era keshogunan Tokugawa setelah peperangan berakhir.

Hal itupun lebih bersifat filosofis daripada praktis. disebabkan oleh masa damai yang membuat para Samurai menganggur akibatnya mereka berusaha mencari jadi diri sebagai pembenaran atas kehadirannya sebagai atasan dari kelas sosial lainnya. muncullah kode bushido yang menekankan pada kehormatan, kepatuhan, dan loyalitas yang membedakan mereka dari lapisan masyarakat lainnya. berujung pada tradisi seppuku atau harkiri daripada menanggung malu.

Pedang Katana menjadi simbol dari pemikiran tentang kehormatan tersebut. padahal sebelum era Tokugawa melarikan diri dari perang saja lumrah dilakukan oleh Samurai apabila perang tidak dapat dimenangkan. masih ada hari esok pikir mereka daripada mati konyol memaksakan perang yang sudah pasti kalah. tipu muslihat pun lumrah untuk dilakukan, boleh dibilang Samurai yang sebenarnya tidak terbelenggu oleh pemikiran konyol semacam itu.


Rabu, 24 Agustus 2016

Mitos Ketajaman Pedang Katana (Samurai)

Seringkali terjadi kesalahpahaman mengenai ketajaman pedang Katana yang dibuat oleh bangsa Jepang. hal ini terjadi karena propaganda era perang dunia 2 yang tersebar melalui gosip dari mulut ke mulut kemudian lestari dalam cerita, novel, film, game dan media lainnya. "pedang samurai" selalu diperlihatkan sebagai sebuah senjata tajam berkualitas tinggi yang memiliki ketajaman super sehingga mampu membelah berbagai macam benda dengan mudah.

Jangankan sekedar memotong pedang ataupun baju pelindung (armor), banyak yang mempercayai bahwa laras senjata mesin yang terbuat dari baja sekalipun bisa dipotong oleh pedang samurai ini. tentu klaim-klaim semacam ini tidak lebih daripada gosip, imajinasi pengarang atau mitos sesat saja. kenyataannya Katana sebagai sebilah senjata tajam yang terbuat dari logam tetap memiliki batasan dan kelemahan yang sama dengan produk logam lainnya.
bagian pedang katana
Bagian-bagian dari Katana serta beberapa teknik konstruksi laminasi

Seperti halnya pedang yang dibuat oleh peradaban lainnya, Katana memiliki sifat, karakteristik dan kelemahan yang relatif sama. seperti pantangan untuk menghantam objek keras seperti helm, armor atau pedang lainnya dengan sekuat tenaga agar tidak merusak mata potong dan bilah itu sendiri. khusus Katana bahkan terhadap objek "lunak" sekalipun (misal sebatang bambu latihan) pantang digunakan secara sembarangan dengan sekuat tenaga.

Disebutkan bahwa Katana digunakan dengan teknik ayunan seperti gerakan pemancing yang melemparkan mata kail dengan joran. tenaganya harus terkontrol dengan baik, tidak penuh tenaga. alias tidak digunakan seperti halnya memotong kayu dengan golok atau kapak. karena apabila digunakan dengan sembrono Katana justru lebih rawan rusak daripada pedang buatan eropa atau bangsa lainnya.

Menguatkan hal ini ada dokumen dari era peperangan besar di Jepang era yang dikenal sebagai sengoku jidai yang menyebutkan berbagai jenis kerusakan pada Katana dan Tachi, jenis pedang lain yang lebih tua. macam kerusakan dimulai dari bilah yang disebutkan gompal, bengkok, patah sampai dengan yang dituliskan hancur berkeping-keping.

Sebenarnya sebagai sebuah senjata, Katana lebih banyak menuntut dalam artian membutuhkan keahlian tinggi penggunanya agar dapat digunakan dengan "aman". pengguna yang kurang terlatih bisa dengan mudah merusak pedangnya sendiri karena material baja dalam Katana tidak sebaik yang dimiliki oleh peradaban lainnya. kelemahan baja Katana ini bersumber dari rendahnya kualitas bahan baku besi yang ada di kepulauan Jepang.
tamahagane
Bongkahan baja Tamahagane, bahan baku pedang Katana tradisional

Kepulauan Jepang hanya memiliki pasir besi yang kemurniannya sangat bervariasi. pasir tersebut dimurnikan menjadi bongkahan baja tamahagane yang mewarisi masalah kemurnian beserta kandungan karbon yang tidak seragam. hal ini menyulitkan produksi pedang karena tiap bongkahan baja memiliki sifat yang berbeda. ada yang lunak dan bersifat lebih fleksibel seperti per daun, ada yang kekerasannya cukup, ada pula yang begitu keras (brittle) sehingga mudah pecah.

Metode pemurnian pasir besi yang mereka miliki juga tergolong tidak efisien karena hanya bisa menghasilkan beberapa persen baja berkualitas baik dari seluruh bahan baku yang digunakan. dari 1 ton pasir besi hanya beberapa Kg tamahagane yang bisa didapatkan. sebuah proses yang memakan waktu berhari-hari dengan hasil yang tidak seberapa. karena itu prosesnya diisi dengan upacara ritual agar memaksimalkan peruntungan dan nasib baik.

Pengolahan baja semacam ini sudah ditinggalkan oleh peradaban lainnya berabad-abad sebelumnya karena ketersediaan bahan baku dan teknik pengolahan logam yang lebih baik. di Jepang karena sulitnya mengimpor bahan baku besi dari luar maka teknik pengolahan tradisional tetap bertahan. hal ini membuat para pengrajin pedang di Jepang terpaksa menyempurnakan teknik yang ada untuk mengakali buruknya bahan baku yang mereka miliki.
traditional steel forging
Keahlian pandai besi tradisional yang masih dilestarikan untuk keperluan study & pariwisata

Tidak menyerah dengan hambatan yang ada, para ahli pedang menyempurnakan teknik multiple folding dan laminasi untuk memaksimalkan bahan baku yang ada. multiple folding dilakukan untuk membuang ketidakmurnian dan menyamakan kekerasan dari bilah yang sedang dikerjakan. sedangkan laminasi bertujuan untuk membuat struktur bilah yang ideal dengan menggunakan kombinasi logam lunak, sedang dan keras.

Baja yang bersifat keras digunakan untuk bagian edge atau mata pisau. semakin keras maka ketahanan atau retensi ketajaman dari mata pisaunya semakin awet. kekurangannya adalah mudah pecah karena brittle atau "garing". karena itu logam yang lebih lunak digunakan sebagai tubuh atau tulang. baja lunak mampu memberikan fleksibilitas seperti per yang mampu menerima benturan sehingga menjaga bilah pedang agar tidak patah.

Dengan teknik laminasi mata pisau bisa saja gompal ketika dihantam dengan keras tetapi pedangnya tidak akan patah dan tetap bisa digunakan. penyatuan baja yang berbeda kekerasan ini memiliki beberapa kombinasi. semakin rumit tentu prosesnya semakin sulit dan membutuhkan keahlian yang lebih tinggi sehingga menjadi langka dan mahal. kebanyakan Samurai hanya menggunakan satu laminasi (Kobuse) atau dua (Honsanmai) karena alasan ekonomi.
laminasi katana
Berbagai jenis laminasi yang mampu dibuat oleh pandai besi Jepang

Katana premium dengan laminasi yang lebih rumit kualitasnya bisa berkali lipat lebih baik daripada yang hanya dua laminasi tetapi harganya luar biasa mahal dan sudah dianggap barang mewah. lebih mirip benda seni atau harta warisan keluarga sehingga tidak diperlakukan  seperti senjata pada umumnya. Katana berkualitas seperti ini hanya dimiliki oleh kaum bangsawan tinggi dan karenanya jarang digunakan secara langsung dalam medan pertempuran.

Bagaimana performa Katana dengan 2 laminasi?

Kemampuan Katana yang dibuat dengan dua laminasi (honsanmai) sudah dianggap menyamai pedang dan persenjataan buatan eropa yang menggunakan biji besi dan teknik pengolahan yang lebih baik. hanya saja apabila bangsa lain bisa memproduksi dalam jumlah besar, pandai besi Jepang dengan teknik multiple folding dan laminasi hanya bisa memproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit dengan ongkos per bilah yang jauh lebih mahal.

Soal kekerasan sebagaimana benda tajam lainnya yang terbuat dari besi logam sebuah Katana lumrah bengkok, gompal atau rusak apabila mengalami benturan keras. seperti halnya mata cangkul yang bisa gompal ketika menghantam batu atau bilah golok yang luka akibat menghantam kulit kayu yang keras, demikian juga Katana mengalami masalah yang relatif sama.

Karena itu Katana yang tajam sekalipun harus pandai memilih-milih sasaran. bagian dari lawan yang dilapisi oleh baju pelindung seperti dada dan bahu serta helm tidak akan diserang. apabila nekat maka bisa dipastikan bilah Katana akan menjadi rusak dan tidak bisa digunakan lagi sebagai senjata. kesalahan semacam ini biasanya dilakukan oleh pemula atau amatir yang tidak terlatih dalam teknik penggunaan Katana atau seni pedang.
samurai in field of battle
Samurai lumrah memulai perang dengan senjata lainnya seperti busur panah dan tombak

Bagi Samurai yang terlatih, yang menjadi sasaran adalah celah-celah bagian pelindung di sekitar leher, ketiak, paha serta bagian sendi / artikulasi lainnya. selain itu lengan juga menjadi sasaran karena memiliki lapisan pelindung yang minimal. sedangkan helm atau ketopong baja serta bagian lainnya yang terbuat dari bahan keras atau logam sebisa mungkin dihindari karena berisiko tinggi untuk merusak bilah pedang.

Di medan tempur seorang Samurai yang membawa Katana bagus sekalipun akan memilih tombak atau naginata sebagai senjata utama untuk memulai pertempuran. selain dari jangkauan dan kekuatan yang lebih baik hal ini juga menjaga Katana mereka aman untuk sementara waktu. karena pada fase awal pertempuran kondisinya demikian kacau sehingga sulit bagi mereka untuk menggunakan pedang dengan teknik yang seharusnya.

Salah-salah karena terlalu bersemangat tidak sengaja menghantam sisi pelindung armor lawan yang tebal sehingga Katana berkualitas baik pun bisa rusak. kalau sudah begitu bisa fatal akibatnya karena sang Samurai tiba-tiba tidak memiliki senjata yang seimbang untuk menghadapi lawannya padahal perang baru saja dimulai. karena itu pedang lebih banyak disimpan sebagai senjata cadangan dan hanya digunakan ketika benar-benar dibutuhkan.

Lalu bagaimana dengan pedang Samurai yang dibawa oleh tentara Nippon Jepang di PD 2?

Ikuti di trit berikutnya ...



* Revisi pertama dengan bantuan bro SatsuJinKen, Kaskus SF Pisau. diskusi dan sumber lain atau pertanyaan bisa di alamatkan di link berikut : Kaskus SF Pisau & Hoax Samurai Sabuk


Sabtu, 20 Agustus 2016

Bayangan Hitam Bernama Ninja dalam Sejarah

Sosok yang identik dengan kostum hitam ini menjadi legenda sebagai pembunuh berkemampuan super. mampu memanjat dinding vertikal dengan cakar besi, berlari di atas permukaan air dengan sendal kayu, atau menghilangkan diri dengan bom asap. sekilas terdengar berlebihan tapi anehnya mereka bukan hanya karangan tetapi betul berdasarkan dari dokumen sejarah. namun sejauh mana kemiripannya antara legenda dengan kebenaran sejarah?

Pertama-tama harus diperjelas bahwa sebutan Ninja hampir tidak pernah disebutkan dalam sejarah resmi. bukan berarti rahasia tetapi sejarah resmi menggunakan sebutan Shinobi yang berarti "untuk mencuri" atau "bersembunyi". Shinobi sendiri sudah dikenal setidaknya sejak abad ke 8. artinya mereka sebenarnya lebih tua daripada Keshogunan ataupun kelas sosial Samurai yang baru dikenal beberapa abad setelahnya.
ninja shinobi
Penampilan Ninja dalam legenda populer

Pada saat itu semua orang yang memiliki tugas untuk mengumpulkan (mencuri) informasi lumrah disebut sebagai Shinobi. peran sebagai mata-mata ini dijalani tanpa latihan khusus, hanya mengandalkan pada kemampuan per individu yang membuktikan dirinya cerdas atau berbakat sehingga mampu membawa pulang informasi yang berharga.

Ketiadaan latihan dan orientasi pada hasil membuat siapapun bisa menjadi seorang Shinobi bahkan orang tua, wanita ataupun anak-anak. berkembangnya kebutuhan akan mata-mata ini sendiri erat kaitannya dengan datangnya pemikiran dari luar Jepang seperti kitab perang karangan Sun Tzu yang mengajarkan tentang pentingnya pengumpulan informasi dalam masa damai ataupun perang.

Shinobi generasi awal karena ketiadaan pelatihan dan pendidikan khusus membuat kemampuannya terbatas. mereka belum tentu menguasai ilmu bela diri, jarang membawa senjata, tidak juga mengenakan pakaian khusus. apabila ketahuan maka jalan satu-satunya adalah lari dan bersembunyi. hanya ada 1 kasus langka dimana Shinobi mampu membakar markas lawannya.

Selama ratusan tahun Shinobi terus digunakan secara informal seperti buruh musiman, hanya dipanggil kalau ada keperluan (perang). baru pada era Keshogunan Kamakura, Shinobi mulai digunakan secara fromal. sekarang mereka bekerja sepanjang tahun dengan penugasan yang resmi. hal ini akan membawa dampak yang besar bagi generasi selanjutnya.
real ninja undercover as farmer
Kiri kostum drama, kanan bagaimana seharusnya shinobi atau ninja bertugas

Peradaban Jepang yang berkembang menjadi feodal dengan tumbuhnya clan dan daimyo di seluruh daerah membuat semakin banyak pihak yang membutuhkan jasa mata-mata. bukan hanya gubernur yang secara tradisional mempekerjakan Shinobi, sekarang tiap clan di daerah juga menjadi pelanggan. adanya jaminan lapangan pekerjaan membuat tiap Shinobi bersemangat untuk melatih keluarganya untuk mengikuti jejak langkahnya.

Generasi baru Shinobi pun muncul, sedari kecil sudah dilatih untuk menjadi seorang mata-mata. mereka diwarisi kemampuan yang berasal dari pengalaman ayah, paman dan kakeknya. lowongan pekerjaan tersebut juga membuat banyak penduduk sekitarnya untuk alih profesi menjadi Shinobi terutama yang tinggal di pegunungan dengan sedikit lahan subur.

Konflik era feodal membawa banyak keuntungan bagi para Shinobi sehingga desa-desa asal mereka bisa berkembang dengan pesat. pada beberapa daerah bisa terdapat sampai dengan seratus desa yang khusus mencetak Shinobi profesional. lama-kelamaan jumlah mereka melebihi lowongan pekerjaan yang ada sehingga lumrah terjadi kompetisi untuk sebuah lowongan.

Hal ini berujung pada konflik berdarah antar desa Shinobi yang tampak dibiarkan oleh penguasa daerah. mereka melihatnya sebagai sebuah seleksi, "biarlah yang terbaik yang dipekerjakan" begitu pikir mereka. hal ini membuat konflik demikian brutal sehingga tiap desa sampai merasa perlu untuk membuat tembok layaknya benteng untuk melindungi warga desa dari serangan tetangga mereka.

Konflik tersebut akhirnya menjadi ajang pembuktian kemampuan dari generasi baru Shinobi yang jauh lebih terlatih dan ahli daripada sebelumnya. para profesional ini terlatih dalam seni penyamaran, bela diri tangan kosong, berkuda, penggunaan racun, bahan peledak, hingga penggunaan berbagai jenis senjata, ilmu astrologi praktis serta psikologi dasar.
map of koga and iga
Koga dan Iga di daerah pegunungan yang strategis karena dekat dengan ibukota Kyoto

Iga dan Koga (Koka) menjadi terkenal karena wilayah tersebut menghasilkan Shinobi profesional dengan kemampuan seperti di atas. berawal dari peperangan di era Keshogunan Ashikaga dimana disebutkan adanya samurai desa yang membantu usaha pemberontakan seorang tokoh lokal. mereka berhasil menahan laju pasukan keshogunan dengan bergerilya sampai 3 tahun sebelum peperangan ditinggalkan karena shogun keburu meninggal.

Keberhasilan "samurai desa" tersebut dilakukan dengan cara yang tidak konvensional, selain dari gerilya mereka juga senantiasa meneror dan mengganggu pasukan lawan hampir setiap malam. entah dengan membakar ranting kering atau dengan memasang jebakan di sekitar lokasi berkemah. banyak diantara mereka yang melanjutkan profesi sebagai Shinobi.

Naiknya pamor dari Shinobi membuat was-was banyak pihak. potensi usaha pembunuhan menjadi risiko yang semakin diwaspadai. karena itu Shinobi sekarang berperan sebagai bodyguard, sebab ada pemikiran logis bahwa hanya sesama Shinobi-lah yang mampu mendeteksi lawan yang berkeahlian serupa dengan mereka.

Tetapi sebenarnya kebanyakan Shinobi tidak mampu melakukan infiltrasi dan usaha pembunuhan terhadap lawan yang tinggal di tempat terlindung dan dijaga ketat. walau memiliki banyak kemampuan tetapi jelas terdapat perbedaan tingkat kesulitan antara memanjat tembok desa dengan tembok kastil yang memiliki alat pengamanan dan penjagaan yang terbaik di jamannya.
shinobi attempt on assassination
Satu-satunya kesempatan Shinobi adalah ketika sasaran berada di ruang terbuka

Karena itu walaupun memiliki keahlian "super" tetapi dalam perang peranan Shinobi tidak jauh berbeda dengan mata-mata bangsa lainnya. hampir semua kegiatan mereka bertujuan untuk mengumpulkan informasi seperti kondisi jalan di wilayah lawan, lebar jembatan, letak sungai, lokasi barak lawan, gudang perbekalan, hingga jumlah prajurit dan kesiapannya.

Melihat dari tugas yang diberikan maka Shinobi lebih banyak bekerja di siang hari daripada keliaran malam-malam yang justru mudah menimbulkan kecurigaan. bekerja di siang hari menuntut kemampuan untuk menyamar dan bukan kebetulan kalau keahlian utama mereka adalah ilmu penyamaran. demikian penting sehingga calon Shinobi yang tidak menguasai akan dikeluarkan dari pelatihan

Setiap Shinobi diwajibkan menguasai beberapa profesi dengan fasih. mulai dari keahlian praktis, tata cara bicara, bahasa tubuh, hingga pengenaan baju dan perlengkapan lainnya secara ahli. penyamaran mereka bisa sebagai tukang obat keliling yang cerewet, pendeta peziarah yang hafal ratusan doa, pedagang baju musiman, hingga tuan samurai yang pongah dan minta selalu dihormati.

Praktisnya mereka ini ahli akting yang sangat baik. demikian baik sehingga mampu memikat lawan bicaranya sehingga mampu mengorek informasi penting tanpa disadari. dalam penyamaran senjata andalan mereka adalah uang sogokan atau barang mahal sebagai hadiah untuk meraih kepercayaan korbannya.

Setelah datang berkali-kali dan cukup dikenal serta dipercaya, seorang tukang obat keliling bisa dengan mudah menguping atau menanyakan hal-hal yang tampak sepele bagi para pelayan atau prajurit di kastil. seperti bagaimana kondisi kesehatan tuan daimyo, gosip masalah internal dalam keluarganya, hingga kata kunci rahasia untuk keluar masuk pintu belakang.
ninja dressed as samurai
Shinobi yang ahli menyamar menyerang bersamaan dengan rekannya dari luar sehingga lawan dibuat kalang kabut

Lantas bagaimana dengan sabotase atau usaha pembunuhan?

Tidak banyak dan legenda yang ada cenderung berlebihan. bukti paling jelas adalah ketika seluruh desa di wilayah Koga dan Iga yang berkekuatan hampir 200 desa (yang biasanya berantem sendiri) bersatu dengan tujuan yang sama untuk menyerang satu orang. bayangkan usaha gabungan Shinobi terbaik se Jepang. apabila legenda tentang kesaktian Ninja benar adanya tentu tidak sampai berapa hari sudah tamat riwayat orang tersebut.

Nama orang tersebut adalah Nobunaga yang karena kesal dengan plin-plan nya sikap para Shinobi yang juga menjual jasa mereka kepada lawan-lawannya, akhirnya memutuskan untuk menggusur semua desa Shinobi di wilayah Koga dan Iga. ternyata dengan segala keahlian Ninja yang legendaris, mereka tidak mampu melukai seorang Nobunaga.

Hanya ada satu kejadian ketika seorang Shinobi berhasil menyusup lalu menembak dengan musket sniper modifikasi. sayangnya tidak mempan terhadap nanban armor sang daimyo. Shinobi lainnya bahkan sama sekali tidak berhasil mendekat. padahal Nobunaga tidak bersembunyi di kastil tetapi ikut serta bersama pasukannya ke pegunungan dan hutan di wilayah Iga yang tentu dikenal dengan sangat baik oleh para Shinobi.

Kedua desa tersebut akhirnya hancur di tangan Nobunaga. uniknya pada suatu saat Nobunaga mencoba menugaskan Shinobi yang paling terkenal yakni Hatori Hanzo untuk menghabisi daimyo lainnya. walaupun mampu menyelinap masuk ke wilayah dan kastil sasarannya (Takeda Shingen) tetapi ia gagal dalam eksekusinya. setidaknya bagaimana ia mampu melarikan diri dari kastil lawan ketika dikejar patut mendapat tepuk tangan.
Hattori Hanzo 1-1 nya shinobi yang tercatat dalam sejarah

Sejarah mencatat bahwa kemampuan Shinobi lebih efektif digunakan dalam wilayah sendiri untuk menjaga keamanan dan pertahanan selain dari menyingkirkan lawan politik secara rahasia. adalah Tokugawa yang mampu mempekerjakan mereka dengan ahli. ia sedari awal bersedia menerima para shinobi yang desanya dihancurkan oleh Nobunaga.

Mereka dipekerjakan sebagai bodyguard dan turut membantu pertahanan beberapa kastil miliknya dari serbuan musuh. para Shinobi juga digunakan secara efektif untuk mendukung penyerangan terhadap kastil lawan dengan pencurian informasi tentang kondisi kastil tersebut. mulai dari jumlah prajurit hingga sisa perbekalannya bisa diketahui.

Tokugawa sebagai tuan terbaik akhirnya juga menjadi juru kunci bagi tradisi Shinobi yang sudah berumur ratusan tahun. struktur clan dan sistem guild Shinobi dihapuskan setelah perang karena mereka berpotensi menjual jasanya kepada pihak selain dari pemerintahan Tokugawa. para Shinobi diberi pilihan untuk ikut menjadi bagian dari intelijen keshogunan baru atau menjadi warga biasa.

Shinobi yang menerima tawaran tersebut harus menyerahkan kuasa atas tanah garapan di desanya dan pindah ke ibukota. sedangkan yang memilih menjadi warga akan diberikan tanah garapan yang lebih besar tetapi dilarang melatih Shinobi dengan pengawasan yang ketat. perlahan generasi terakhir dari Shinobi hilang seiring dengan berlalunya waktu.


Senin, 16 Mei 2016

Mengenal Kastil, Puri atau Benteng Kerajaan ala Eropa

Pernahkah anda berpikir mengapa sebagian peradaban membangun kastil seperti puri disneyland sedangkan peradaban lainnya membangun tembok kota atau benteng yang bisa melindungi seantero kota dan seluruh penduduknya? tentu jawabnya bukan sekedar teknologi atau kemampuan membangun karena kota Ur sekalipun, salah salah satu kota tertua dalam sejarah peradaban manusia sudah memiliki tembok kota keliling.

Sejak ribuan tahun yang lalu umat manusia sudah menguasai teknik pembangunan tembok yang mengelilingi seantero kota dan bagian-bagian penting dari pemerintahan. pada masa yunani kuno semakin banyak kota yang dilindungi oleh tembok besar seperti kota Troy yang terkenal dalam epic Iliad. pada era romawi walled cities beserta defensive walls berkembang dengan pesat hingga kita mengenal Hadrian wall dan Byzantine city wall yang melegenda.
City of Ur walls
Ilustrasi kota Ur, 5800 tahun yang lalu di Sumeria dengan tembok keliling kota

Lalu mengapa selepas keruntuhan romawi barat, peradaban di eropa tiba-tiba tidak lagi membangun tembok pertahanan kota?

Tentu banyak faktor yang menjadi penyebab tetapi yang paling utama adalah karena kerajaan eropa cenderung terpecah-pecah sedemikian kecil sehingga merasa tidak mampu untuk membangun bangunan pertahanan yang sedemikian menguras sumber daya di kota mereka. mereka lebih memilih untuk berkonsentrasi pada alat pertahanan yang lebih kecil dan pribadi namun dengan efektivitas yang menyamai.

Sebuah kastil memang tidak akan mampu untuk melindungi seluruh warga kota beserta kekayaan alamnya tetapi pemilihan lokasi yang strategis mampu membuat lawan kesulitan untuk menguasai wilayah tersebut. bagi penyerang walaupun mudah untuk menguasai kota dan sentra ekonomi tetapi tanpa menguasai kastil yang menjaga maka pasukan mereka senantiasa terekspose dari serangan balasan dan dadakan ketika lengah.

Tidak hanya didesain terhadap gangguan militer tetangga yang iseng menyerang, sebuah kastil juga harus mampu bertahan dari ancaman lainnya seperti bahaya kebakaran. hal ini membuat kastil era sebelumnya yang terbuat dari kayu digantikan dengan batu yang lebih tahan api setidaknya pada tingkat pertama dan tembok terluar. hal ini meminimalisir ancaman kebakaran dan penyebarannya baik disengaja ataupun tidak.
parts of castle explained
Diagram dari bagian-bagian sebuah kastil, Keep atau Donjon adalah bangunan utama

Kastil dibangun secara khusus untuk memberikan perlindungan terhadap keluarga kerajaan atau pembesar lainnya beserta dengan segala kekayaan dan aset pemerintahan. tidak lupa sekutu terdekat mereka juga tinggal di kastil beserta dengan pasukan kerajaan sebagai elemen perlindungan. mereka ditempatkan pada bagian yang berlainan sesuai dengan status sosial mereka, raja dan bangsawan di Donjon sedangkan prajurit di barak dan berbagai titik penjagaan.

Selain dari sebagai rumah bagi raja dan para pembesar beberapa kastil dibangun dengan tujuan ekonomi ataupun murni pertahanan. ada yang dibangun secara spesifik untuk mengambil uang tol pada suatu perlintasan jalan atau akses sebuah sungai. kastil-kastil tersebut sengaja dibangun di dekatnya untuk memastikan semua yang melintas membayar pajak tol sekaligus memastikan kontrolnya atas wilayah tersebut dari penyusup atau gangguan tetangga yang iseng.

Kastil serupa juga lumrah dibangun pada suatu daerah yang subur, perkebunan ataupun pertambangan kaya yang terhitung vital bagi industri, ekonomi atau keberlangsungan sebuah kerajaan. tentu ukuran dan kelengkapan kastil tersebut disesuaikan dengan kepentingan daerah tersebut beserta potensi ancaman yang ada.
kastil, pertahanan natural
Halaman kastil dan bentangan alamnya juga merupakan bagian dari perlindungan

Para raja juga kadang menginginkan sebuah tempat peristirahatan pada tempat yang lebih terasing dengan iklim yang lebih sejuk. akibatnya kastil pun dibuat pada tempat yang jauh dari pusat kota dan pemerintahan. lebih mirip vila tetapi kastil peristirahatan ini tetap dilengkapi dengan fasilitas perlindungan yang mumpuni seperti tembok berlapis, bukaan untuk menembak panah, tower yang saling melindungi, berbagai mekanisme pertahanan, gateway ganda serta labirin.

Bedanya dengan kastil lainnya, pada kastil peristirahatan sedari awal diprioritaskan pembangunan ruangan yang lebih nyaman dan mampu mengakomodasi kunjungan tamu negara, diplomat dan pejabat penting lainnya. hal ini membuat bangunan dan elemen perlindungan akan mengalah apabila dirasa mengganggu kenyamanan penghuninya. kastil jenis ini biasanya dilengkapi kamar, jendela, aula dan taman yang besar dan megah.

Kastil mungkin terlihat cantik dari luar tetapi efektivitas pertahanannya tidak main-main. tercatat beberapa kali sejumlah kecil penjaga tidak lebih dari 20-30 orang pemanah mampu bertahan dari serbuan ratusan bahkan ribuan pasukan lawan. apalagi rata-rata kastil terbebas dari ancaman siege weapon karena terletak di tebing tinggi dengan akses yang curam sehingga tidak bisa dilewati oleh peralatan berat. parit besar, bukit atau hutan tebal memiliki fungsi yang sama.
kerak castle, crusader
Kastil Kerak yang sangat terkenal di era crusader

Di balik segala keunggulannya, kastil memiliki keterbatasan yakni luasnya relatif kecil sehingga tidak mampu mengakomodasi banyak personil. pada keadaan damai saja banyak prajurit yang sulit untuk mendapatkan tempat tidur yang layak dan sekedar tiduran di koridor dengan alas tikar jerami di waktu malam. masalah luas juga membuat gudang persediaan logistik mereka relatif kecil sehingga hanya mampu menghidupi seratusan prajurit atau puluhan men-at-arms beserta pelayannya.

Namun yang lebih mendesak adalah ketersediaan sumber air bersih. pemilihan lokasi pada tempat tinggi dan terjal membuatnya sulit untuk menemukan sumber mata air berlimpah airnya. pada beberapa kastil hanya ada 2 atau 3 sumur dengan jumlah air yang hanya cukup untuk minum puluhan orang saja per hari. hal ini membuat kastil rawan terhadap situasi pengepungan dimana kebanyakan hanya mampu bertahan dalam hitungan beberapa minggu saja.

Menghadapi kelemahan tadi, kastil untuk tujuan militer dibuat lebih besar hingga mampu mengakomodasi ribuan prajurit ataupun lebih. persediaan air minum dan makanan sekedar ditimbun secara besar-besaran pada gudang penyimpanan hingga para penjaga bisa bertahan selama beberapa bulan tanpa bantuan logistik dari luar.

Di eropa barat tercatat setidaknya 75 ribu kastil dibangun sepanjang era medieval. kebanyakan relatif kecil dan hanya memiliki jumlah tower yang sedikit, banyak yang tidak memiliki keep atau bangunan utama. tuan rumah serta tamu tinggal pada akomodasi yang tersedia pada tower yang terbesar sedangkan prajurit ditempatkan pada gate utama serta beberapa ruangan di sekitar kastil dan tembok pertahanan.
japan medieval castle
Kastil serupa ala Keshogunan Jepang

Pada keshogunan jepang kastil juga menjadi primadona karena sumber daya mereka yang cenderung terbatas dan sistem feodal yang terpecah-pecah. banyak penguasa feodal yang tidak mampu untuk membuat tembok keliling kota. kalaupun dipaksakan sebuah tembok kota justru dinilai mengganggu karena menghalangi perkembangan kota dan perluasan lahan produktif.

Seperti halnya di eropa di jepang pun sebuah kastil dirasa cocok sebab mampu melindungi kota atau wilayah tempatnya bernaung tanpa memperlambat perkembangan lahan untuk produktivitas. sebuah kastil juga dirasa mampu mencerminkan prestise dari penguasa feodal dengan kemegahan dan keindahan dari kastil tersebut. namun yang terpenting kastil tetap mampu berfungsi sebagai puast pemerintahan dan basis militer.


Minggu, 08 Mei 2016

Kuda Perang Samurai asli Jepang, benarkah sebaik dalam film?


Seperti halnya kuda asli mongolia, kuda asli jepang pun memiliki ciri khas fisik yang hampir sama dengan ukuran tubuh yang relatif kecil dan tidak tinggi. hal ini ditambah lagi dengan kondisi kepulauan jepang yang terisolir dari dunia lain sehingga kuda asli mereka tidak bisa kawin silang dengan kuda jenis lain yang menjadikannya tidak jauh berbeda dari kuda primitif.
samurai berkuda
Samurai berkuda yang terbiasa bertempur menghadapi panah lawan-lawannya

Karenanya, samurai berkuda tidak mampu menerjang barisan pasukan infantri dengan teknik charge untuk menerobos barisan lawan. alasannya tentu karena tunggangan mereka tidak memiliki kemampuan fisik yang dibutuhkan.  kalau dipaksakan justru berbahaya karena penunggangnya bisa terlempar dari sadel oleh kuda yang panik ketakutan.

Lalu bagaimana pasukan kavaleri samurai ini digunakan?

Pasukan berkuda di jepang pada awalnya khusus digunakan dengan senjata busur dan panah. untuk peran ini justru kuda asli jepang ini menjadi efektif sebab irama larinya tidak menghentak yang memudahkan dalam akurasi panahan. jalannya konflik di Jepang pun pada awalnya berskala kecil, hanya antara ratusan orang di lahan yang luas. oleh karena itu sebarisan infantri lawan bisa dipancing atau diputari sambil ditembaki panah dari jauh tanpa bisa membalas.
samurai horse
Kuda asli jepang fisiknya tidak besar ataupun tinggi

Walaupun lari kuda tersebut pelan, tapi pelari tercepat-pun tidak bisa mengejar seekor kuda karena perbedaan dalam stamina dan kemampuan off road. demikian pula pemain tombak atau pedang terbaikpun tidak bisa berbuat banyak melawan pengendara kuda yang tidak bisa dikejar atau dijangkau olehnya.

Sedemikian efektifnya para samurai era lama ini menggunakan kuda, busur dan panah sehingga pada abad ke 11 dan 14 jumlah pasukan yang bertikai hanya dituliskan berdasarkan dari jumlah pasukan berkuda yang dimiliki oleh tiap kubu. karena sejumlah kecil pasukan infantri ringan yang belum profesional tidaklah memiliki pengaruh besar dalam peperangan. duel antar samurai berkuda-lah yang menjadi inti dari peperangan.
horse comparison
Komparasi kuda modern di depan, asli jepang di belakang

Kemampuan berkuda inilah yang membuat kaum gokenin (tuan terhormat) atau bushi (bersenjata) mulai naik kelas dalam strata sosial sebagai kesatria karena dibutuhkan oleh para penguasa untuk menghadapi pemberontakan atau kelompok perampok yang bersarang di pedalaman. lama-kelamaan mereka menjadi kekuatan besar di daerah yang nantinya akan melahirkan clan dan para daimyo yang akan bertikai di seluruh Jepang.


Jumat, 06 Mei 2016

2 tokoh The Last Samurai, perangnya betulan nyata tapi....

Sudah nonton filmnya? dibintangi oleh Tom Cruise dan Ken Watanabe sebagai Capt. Nathan Algren dan Lord Moritsugu Katsumoto. berkisah tentang kasta samurai dalam pemberontakan Satsuma (1877) sehubungan dengan modernisasi dari restorasi Meiji. tapi apakah kisah ini nyata ataukah sekedar mitos dan fiksi?
foto karakter fiksi nathan algren
Sosok Tom Cruise dengan armor ala Jepang dan Katana yang membuat banyak orang penasaran

1. Karakter Tom Cruise yakni Capt. Nathan Algren dari kacamata sejarah adalah tokoh rekaan alias fiksi. tidak ada orang Amerika yang tercatat terlibat dalam pemberontakan Satsuma. hanya ada 1 perwira Amerika yang disebutkan hadir pada akhir pemberontakan sebagai saksi, tapi tidak berperan atau ikut serta. namun sejarah menyebutkan kalau 10 tahun sebelumnya ada banyak perwira Prancis yang didatangkan ke Jepang untuk melatih prajurit Keshogunan.

Kisahnya dimulai ketika kontingen militer Prancis yang sedang melakukan pelatihan menerima kabar bahwa Pemerintahan Shogun yang menjadi tuan rumah digulingkan oleh kubu pro-Kekaisaran. dalam konflik bersenjata yang terjadi seorang perwira Prancis bernama Jules Brunet tidak tinggal diam dan membantu pasukan Keshogunan yang sudah dilatihnya untuk merebut kembali pemerintahan. tokoh tersebut tercatat banyak berperan dalam perang Boshin (1868).

Aksinya yang memilih untuk bertahan di Jepang sendirian setelah ditinggalkan oleh rekan-rekannya yang pulang ke eropa membuat nama Jules Brunet populer di luar negeri. ia dilihat sebagai sosok pemberani atau kesatria yang setia dengan pemerintahan Shogun yang digulingkan. di Jepang pun ia cukup terkenal sehingga walaupun berstatus sebagai orang asing tetapi Jules diberikan jabatan tinggi dalam militer Keshogunan yang ia bela.

Sayangnya dalam perang pasukannya menemui banyak hambatan seperti kalah jumlah dan persenjataan. akhirnya konflik berakhir dengan gencatan senjata dan rekonsiliasi setelah beberapa kekalahan di pihak mereka. bisa dilihat kemiripan kisah Jules Brunet dengan karakter Algren dalam film. tokoh rekaan Hollywood tersebut tampak terinspirasi secara langsung oleh karakter Jules pada pada Boshin war yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan Satsuma rebellion.
karakter fiksi samurai katsumoto
Katsumoto adalah tokoh rekaan agar menghindari kesalahan atau ketidakmiripan dengan pelaku sejarah

2.  Karakter yang diperankan oleh aktor Ken Watanabe juga... fiksi. Lord Katsumoto tidak ada dalam catatan sejarah. tetapi ada kemiripan besar dengan seorang tokoh nyata bernama Saigo Takamori yang adalah seorang tokoh penting dalam pemberontakan Satsuma. sebelumnya Saigo terlibat pada perang Boshin di pihak pro-kekaisaran dan merupakan salah satu tokoh kunci dalam kemenangan pasukan kaisar melawan tentara bakufu atau keshogunan.

Tapi kemudian Saigo menentang modernisasi yang berniat menghapuskan kasta samurai. ia beranggapan kalau kasta samurai masih dibutuhkan oleh negara dan sudah bersumbangsih besar dalam perang. walaupun berstatus sebagai pejabat tinggi akhirnya Saigo mau menerima posisi sebagai pemimpin para samurai pemberontak. sesuai dengan karakter Lord Katsumoto dalam film. hanya saja gambaran tokoh dan jalannya peperangan sangat berbeda dengan film.

Dimulai dengan Saigo Takamori sendiri, dalam foto dan dokumen sejarah manapun ia selalu terlihat mengenakan seragam formal militer ala barat. ia jarang terlihat mengenakan model baju tradisional ataupun baju tempur ala samurai seperti yang diperlihatkan dalam film. sampai akhir hayatnya ia tidak pernah terlihat mengenakan perlengkapan tempur khas samurai seperti dalam film.
saigo takamori dengan seragam militer
Lukisan Saigo Takamori yang terlihat selalu mengenakan seragam militer ala barat

Demikian juga para perwira dan pasukannya berlaku sama dengan dirinya. hanya ketika mereka sudah betul-betul kehabisan amunisi atau peluru barulah mereka mungkin terpaksa mengenakan armor ala samurai, tetapi itupun masih diragukan kebenarannya. paling mungkin mereka sekedar menggunakan pedang katana karena kehabisan peluru untuk menembak.

Lho, PELURU? bukankah di film mereka pakai pedang katana dan busur panah?

Disitulah letak kesalahan fatalnya. para pemberontak zaman dulu sekalipun bukanlah orang bodoh dengan modal nekat. tercatat ketika pemberontakan meletus yang pertama kali mereka lakukan adalah menyerang gudang amunisi milik pemerintah. di sana mereka merebut ratusan demi ratusan pucuk senapan modern, meriam artileri buatan barat dan sejumlah besar amunisi.

Pemberontakan Satsuma sendiri meletus karena jatah beras untuk keluarga samurai yang sebelumnya sudah dikurangi kemudian diberitakan akan dihapus. jadi bukan karena faktor kehormatan tapi karena desakan ekonomi dan perut. Saigo yang berada di lokasi konflik awalnya tidak mau ikut campur tetapi lama-kelamaan merasa iba dan senasib sehingga bersedia memimpin mereka.
sketsa sejarah tentang samurai di era restorasi meiji
Samurai era restorasi Meiji sudah tidak lagi menggunakan pakaian tradisional tapi sudah kebarat-baratan

Saigo sendiri terlahir ke dalam kasta samurai tetapi jauh dari harta. walaupun samurai tetapi keluarganya miskin dan banyak terlibat hutang yang lunas puluhan tahun kemudian. ia merasakan betul bagaimana sulitnya kehidupan seorang samurai rendahan walaupun penuh dedikasi dan pengorbanan. penghapusan kasta ini baginya sangatlah salah. pemberintahan baru seperti membuang para samurai tanpa mengingat jasa mereka dalam perang melawan Keshogunan.

Perang dalam pemberontakan Satsuma sendiri dilakukan secara kebarat-baratan mengingat hampir semua "samurai" dan Saigo sendiri sudah terdidik militer ala barat. tampilan dalam perang adalah barisan infantri bersenjata musket ditambah dengan sergapan kavaleri dan penggunaan meriam medan secara dominan. lebih mirip perang saudara amerika serikat atau napoleonic wars daripada adaptasi film Last Samurai.
adegan tempur dalam the last samurai
Adegan dalam film ini lebih cocok pada film bertema Sengoku Kidai, 350 tahun sebelumnya

Baru ketika pihak Saigo kehabisan amunisi dan peluru, terutama artileri berat maka mereka terpaksa menggunkaan senjata tradisional berupa pedang dan busur panah. di saat terakhir ini lah mereka betulan melakukan charge atau serangan frontal layaknya infantri samurai dimana Saigo ikut serta bersama pasukannya dan akhirnya gugur tertembak.

Ada yang mengatakan Saigo bunuh diri atau seppuku ketika terluka, tapi kemungkinan besar ia kehilangan kesadaran ketika tertembak, kehabisan darah lalu meninggal di tempat. adalah para perwiranya yang melakukan ritual bunuh diri kepadanya sebagai penghormatan agar peran Saigo sebagai samurai terakhir terlihat sempurna.

Mitos terjadinya pertempuran berat sebelah antara samurai bersenjata pedang melawan prajurit modern bersenjata senjata api menjadi populer karena film Last Samurai. hal ini terjadi sebab ide bahwa ada samurai yang nekat melawan tentara bersenjata api jauh lebih menarik dan mudah dipasarkan kepada penonton daripada perang dar-der-dor dengan senjata jadul yang membosankan. Samurai vs tentara dengan senjata api, siapa yang tidak penasaran?
film jepang tentang satsuma yang lebih akurat
Film baru yang lebih akurat tentang pemberontakan Satsuma, seragamnya sama dengan yang dikenakan oleh Saigo

Di Jepang sendiri film bertema sejarah yang agak keliru ini dianggap sebagai fiksi hollywood saja. beberapa film adaptasi domestik dibuat untuk meluruskan mitos yang salah ini dengan gambaran jalannya perang yang lebih akurat dan tokoh Saigo yang mendekati kenyataan sejarah. karena mereka menyadari pembodohan sejarah bisa sangat berbahaya bagi generasi selanjutnya.