Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kota. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Februari 2019

Sejarah Awal Mula Kota Salatiga - Jawa Tengah

Kota Salatiga, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan sepenuhnya dengan Kabupaten Semarang. Salatiga terletak 49 km sebelah selatan Kota Semarang atau 52 km sebelah utara Kota Surakarta, dan berada di jalan negara yang menghubungan Semarang-Surakarta. Salatiga terdiri atas 4 kecamatan, yakni Argomulyo, Tingkir, Sidomukti, dan Sidorejo. Kota ini berada di lereng timur Gunung Merbabu, sehingga membuat kota ini berudara cukup sejuk.

Menurut sejarah, nama Kota Salatiga berhubungan erat dengan Ki Ageng Pandanaran yang merupakan Bupati ke-2 Kota Semarang, Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sunan Bayat atau Sunan Tembayat. Saat zaman Kesultanan Demak masih berkuasa penuh di Jawa Tengah, Kabupaten Semarang termasuk dalam wilayah kesultanan.

Kabupaten Semarang dipimpin oleh Ki Ageng Pandanaran. Ki Ageng Pandanaran merupakan seorang pedagang yang kaya raya. Namun seiring berjalannya waktu, Ki Ageng Pandanaran malah sibuk memperkaya dirinya sendiri, sampai melupakan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya.
Sejarah Awal Mula Kota Salatiga - Jawa Tengah
Logo Kota Salatiga
Menurut kabar, Sunan Kalijaga yang pada saat itu merupakan penasehat Sultan Demak. Ia berniat untuk mengingatkan Ki Ageng Pandanaran dengan cara menyamar menjadi seorang penjual rumput. Suatu hari, Sunan Kalijaga mendatangi Ki Ageng Pandanaran. Ia berpura-pura menawarkan rumput. Ki Ageng setuju membeli rumput tersebut tapi dengan harga murah. Sunan Kalijaga menolaknya dengan alasan harganya terlalu murah.

Ki Ageng Pandanaran tidak terima. Ia merasa tersinggung dengan penolakan Sunan Kalijaga. Ia sangat marah kemudian mengusir Sunan Kalijaga. Sebelum pergi, Sunan Kalijaga berkata pada Ki Ageng Pandanaran bahwa ada cara lebih baik untuk mencari kekayaan daripada menimbun harta yang seharusnya menjadi hak rakyat.

�Wahai Pak Bupati terhormat, daripada menimbun harta milik rakyat, ada cara lain lebih terhormat untuk mencari harta kekayaan.� kata Sunan Kalijaga.

�Memangnya siapakah kamu? Sampai berani menceramahiku?� kata Bupati Semarang.

�Pinjami saya cangkul untuk menunjukkan cara mencari harta.� jawab Sunan Kalijaga.

Ki Ageng Pandanaran kemudian memberikan cangkul pada Sunan Kalijaga. Segera Sunan Kalijaga mencangkul tanah di depannya. �Prak.� terdengar suara cangkul mengenai sebuah benda keras. Setelah benda itu diambil, ternyata itu adalah bongkahan emas. Ki Ageng Pandanaran merasa kaget menyaksikan kejadian tersebut. Ia kemudian melihat baik-baik wajah si penjual rumput. Ia berusaha menebak-nebak siapa sebenarnya si penjual rumput. Setelah mengamati agak lama, Ki Ageng tersentak kaget ketika menyadari bahwa si penjual rumput adalah Sunan Kalijaga. Segera ia bersimpuh meminta maaf pada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga dengan bijaksana memaafkannya. Ia meminta beliau agar kembali memimpin Kabupaten Semarang dengan benar. Sunan Kalijaga kemudian meninggalkan Ki Ageng Pandanaran.

Sepeninggal kejadian tersebut, Ki Ageng menjadi merasa bersalah. Ia sangat malu telah menumpuk kekayaan dengan jalan tidak benar. Ia kemudian memutuskan melepaskan jabatannya sebagai Bupati Semarang. Untuk menebus kesalahannya, Ia akan mengikuti jejak Sunan Kalijaga menjadi seorang penyiar agama dengan mendirikan sebuah pondok pesantren di Gunung Jabaikat.

Nyai Ageng yang mengetahui rencana suaminya, menyatakan akan mengikuti jejak Ki Ageng. Ki Ageng Pandanaran menyetujui keinginan Nyai Ageng dengan syarat tidak boleh membawa harta benda.

Tibalah saat keberangkatan Ki Ageng dan Nyai Ageng ke Gunung Jabaikat untuk membangun pondok pesantren. Sebelum berangkat, Nyai Ageng sibuk mengumpulkan perhiasan untuk ia bawa. Ia menyimpannya ke dalam tongkat bambu. Karena menunggu lama, akhirnya Ki Ageng Pandanaran berangkat terlebih dahulu ke Gunung Jabaikat.

Tidak lama kemudian, setelah selesai mengumpulkan perhiasan untuk dibawa ke Gunung Jabaikat, Nyai Ageng segera berangkat menyusul Ki Ageng Pandanaran. Tapi sial, di tengah perjalanan muncul tiga orang perampok memaksanya untuk menyerahkan semua perhiasan dalam tongkat bambu yang dibawa oleh Nyai Ageng. Karena tidak mempunyai pilihan lain, Nyai Ageng pun menyerahkan semua perhiasan yang ia bawa kepada paraperampok. Ia segera bergegas pergi menyusul suaminya di Gunung Jabaikat.

Sesampainya di Gunung Jabaikat, Nyai Ageng segera menceritakan perampokan yang dialaminya. Ki Ageng Pandanaran kemudian menasehati istrinya agar jangan terlalu serakah dengan harta. Ia meminta istrinya menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran. Ki Ageng kemudian mengatakan bahwa di tempat istrinya dihadang oleh ketiga perampok tersebut kelak akan bernama Salatiga, yang berarti tiga orang bersalah.

Referensi:
https://histori.id/kisah-asal-mula-kota-salatiga/
Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.

Rabu, 02 Januari 2019

Sejarah Asal Usul Kota Surabaya - Jawa Timur

Nama Kota Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya atau lebih dikenal dengan sebutan Sura ing Baya, dibaca Suro ing Boyo. Gabungan dua kata itu diartikan �berani menghadapi tantangan�. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata Cura Bhaya atau Curabhaya. Penulisan nama atau penyebutan Surabaya sebelumnya pernah ditulis sebelumnya dengan : Surabaia, Soerabaia, Seoarabaja dan Surabaja.

Asal Usul dan Sejarah Terjadinya Kota Surabaya 

Nama Ujunggaluh (Hujunggaluh) sudah tersebut dalam sumber sejarah berupa prasasti abad X (905 AD, 907 AD, 930 AD, serta 934 AD), tetapi bahwa Ujunggaluh adalah sebuah pelabuhan dagang yang berada di Kali brantas baru diketahui dari prasasti Kelagen (sekarang di Dukuh Kelagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo) yang dibuat atas perintah Raja Airlangga pada tahun Saka 959 atau tahun 1037 AD.

Suatu petunjuk yang memberikan keterangan agak pasti tentang letak Ujunggaluh baru muncul pada permulaan abad XIII dari buku Chu Fan Chi tulisan Chau Ju Kua (1220 AD) yang menyebutkan bahwa pada waktu itu Ujunggaluh menghasilkan garam teluk (bay salt), biribiri, dan burung kakaktua. Karena Ujunggaluh menghasilkan garam, tentu letaknya di pantai.
Sejarah Asal Usul Kota Surabaya - Jawa Timur
Icon Kota Surabaya
Data-data dari sumber-sumber sejarah yang berupa prasasti Kelagen (1037 AD), tulisan buku Chau Ju Kua (1220 AD), kronik dinasti Yuan (1293), Kidung Harsa Wijaya (abad XVII), buku Pararaton (abad XVIII), membawa kita pada kesimpulan bahwa lokasi Ujunggaluh pada abad XIII berada di kotamadya Surabaya sekarang.

Banyaknya kampung-kampung di Kotamadya Surabaya yang memakai kata kali, misalnya Kaliasin, Kaliwaron, Kali-kepiting, Darmokali, Ketabangkali, Kalidami, dan lain-lain, kiranya merupakan petunjuk bahwa di Ujunggaluh pada abad XIII banyak terdapat sungai. Sumber tertulis tertua yang menyebutkan nama Surabaya adalah Prasasti Trowulan I dari tahun 1358 AD (tahun Saka 1280), yakni sebagai nama desa yang termasuk kelompok desa di tepi sungai, sebagai tempat penambangan (naditira pradesa) yang dulu sudah ada.

Sejak mundurnya kerajaan Majapahit pada awal abad XV, Surabaya kemudian berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam yang dipimpin oleh Raden Rakhmat atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Kepemimpinan Sunan Ampel ini mendapat restu dari Majapahit.

Pada waktu itu Malak menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan sekaligus juga sebagai pusat penyebaran agama Islam di Asia Tenggara. Hal ini makin memantapkan kedudukan Surabaya dan Gresik sebagai pusat penyebaran Islam, khususnya di sepanjang jalur pelayaran Laut Jawa, karena para saudagar Jawa yang menguasai perdagangan antara Maluku-Jawa-Malaka.

Peranan dan pengaruh Surabaya sangat besar dalam proses pengislaman Jawa. Atas jasa Surabaya pula muncul kota-kota pelabuhan sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama islam di sepanjang pantai utara jawa. Antara lain adalah kota gresik, Sedayu, dan Tuban, serta Demak yang kemudian menjadi pusat kesultanan Demak di bawah Raden Fatah.

Setelah wafatnya Sunan Ampel, kepemimpinan Islam di Surabaya berpindah ke Giri dan Gresik. Sedangkan pengganti Sunan Ampel yang menguasai Surabaya adalah putranya, Sunan Drajat, kemudian berturu-turut adalah Kiaji Gede Pemburuan, Panembahan Romo, Pangeran Suroboyo, Tumenggung Surdipuro, Kiaji Tumenggung Natar Wong Pati, dan Kiaji Arip Kertosono.

Juga pernah ada sebuah pemerintahan yang terdiri dari 11 orang yang disebut �Hoemboels� dan dipimpin oleh Prumus inter Paris. Sesudah itu menyusul nama-nama Bupati Kiaji Nilisroyo, Raden Nolo Dito, Trunojoyo, Pati Bondang, dan Panji Wirio Kromo seorang pangeran buta yang diberi nama �Raja�, Pangeran Pekik.

Pada abad XVII, menurut buku Tung Hsi Yang Kau, disebutkan Gresik telah menguasai wilayah Surabaya dan Yortan (Bangil). Bahkan disebutkan Surabaya sudah tidak begitu penting sekali, karena sebagian besar pedagang telah pindah ke Yortan.

Nama dan peranan Surabaya muncul secara pasti pada masa awal pertumbuhan Majapahit. Tentara Tartar berhasil dihancurkan oleh R. Wijaya di daerah yang bernama Ujunggaluh pada tanggal 31 Mei 1293 AD. Kemudian peristiwa heroik itu dimitoskan dan dilambangkan sebagai pertempuran antara ikan Sura dan Baya ( Surabaya), dan selanjutnya dipakai sebagai sebutan baru bagi Ujunggaluh.

Sejarah Kota Surabaya

Pada tanggal 31 Mei 1293 Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit) dengan keberanian dan semangat dan jiwa kepahlawanan berhasil menghancurkan dan mengusir tentara Tar-Tar, pasukan kaisar Mongolia dari bumi Majapahit. Tentara Tar-Tar meninggalkan Majapahit melalui Ujung galuh, sebuah desa yang terletak di ujung utara Utara Surabaya, di muara Kali Mas.

Kerajaan Surabaya yang luput dari catatan sejarah sudah saya singgung. Sastrawan Surakarta, Ki Padmosusastro 1902, mencatat penggal kisah kerajaan kecil di sudut Bang Wetan (Jawa Timur) ini dalam Kitab �Sedjarah Dalem� yang saya baca beberapa waktu lalu. Setidaknya bisa menambah refrensi.

Kerajaan Surabaya diperkirakan lahir 1365, jauh lebih tua dibanding Mataram yang lahir pada 1577. Namun kerajaan Surabaya secara resmi bubar setelah kekuasaan jajahan Mataram di Bang Wetan �beralih� ke kompeni 1755. Akhir kerajaan Surabaya, tidak lepas dari pengaruh Mataram.

Namun kekuasaan Surabaya baru benar-benar hilang ketika penguasa Hindia Belanda Van Imhoff, berkunjung ke Surabaya pada 11 April 1746. Diperkirakan kerajaan ini berdiri selama tidak kurang dari 375 tahun.

Digambarkan, Pengaruh Kerajaan Surabaya meliputi Bang Wetan, Kalimatan Selatan, Kalimatan Timur, Pulau Sulawesi bagian tengah hingga selatan dan sebagian kepulauan Maluku bagian selatan. Surabaya adalah kerajaan niaga terakhir yang memiliki hubungan dengan Portugis, Belanda, Inggris, dan Tiongkok.

Menurut Padmosusastro, tidak tercatatnya nama raja-raja Surabaya karena minimnya sastra tulis, seperti lazimnya kerjaaan di pedalaman Jawa. Namun penguasa Surabaya yang paling terkenal adalah raja abad 17 karena keberaniannya menolak hegemoni tiga raja Mataram. Catatan Padmosusastro menyebut nama Raja Surabaya itu adalah Jayalengkara. Putra raja ini lebih tersohor, yaitu Pangeran Pekik.

Dari tahun 1483-1542 Surabaya merupakan bagian dari wilayah kerajaan Demak. Sesudah itu kurang lebih 30 tahun Surabaya ada di bawah kekuasaan supremasi Madura. dan antara 1570 sampai 1587 Surabaya ada di bawah dinasti Pajang.

Pada tahun 1596, orang Belanda pertama kali datang ke Jawa Timur di bawah pimpinan Cornelis Houtman. Pada tahun 1612 Surabaya sudah merupakan bandar perdagangan yang ramai. Banyak pedagang Portugis membeli rempah-rempah dari pedagang pribumi. Pedagang pribumi membeli rempah-rempah secara sembunyi-sembunyi dari Banda, meskipun telah ada persetujuan dengan VOC yang melarang orang-orang Banda berdagang untuk kepentingannya sendiri.

Setelah tahun 1625 Surabaya jatuh ke tangan kerajaan Mataram. Setelah takluk dari kerajaan Mataram, tahun 1967 Surabaya mengalami kekacauan akibat serangan para bajak laut yang berasal dari Makasar. Pada saat keadaan tidak menentu inilah muncul nama Trunojoyo, seorang pangeran dari Mataram dari suku Madura, yang memberontak terhadap Raja Mataram. Dengan pertolongan orang-orang Makasar Trunojoyo berhasil menguasai Madura dan Surabaya.

Di bawah kekuasaan Trunojoyo, Surabaya menjadi pelabuhan transit dan tempat penimbunan barang-barang dari daerah subur, yaitu delta Brantas. Kalimas menjadi �sungai emas� yang membawa barang-barang berharga dari pedalaman.

Dengan alasan ingin membantu Mataram, pada tahun 1677 Kompeni mengirim Cornelis Speelman yang dilengkapi dengan angkatan perang yang besar ke Surabaya. Benteng Trunojoyo akhirnya dapat dikuasai Speelman. Kemudian Gubernur Jenderal Couper mengembalikan Surabaya kepada Mataram.

Pada abad 18, tahun 1706, Surabaya menjadi ajang pertempuran antara Kompeni dibawah pimpinan Govert Knol dan Untung Surapati.

Setelah peperangan terus menerus, tanggal 11 Nopember 1743 Paku Buwono II dari kerajaan Mataram dan Gubernur Jenderal Van Imhoff di Surakarta menanda-tangani sebuah persetujuan yang menyatakan bahwa ia menyerahkan haknya atas pantai utara Pulau Jawa dan Madura (termasuk di antaranya di Surabaya) kepada pihak VOC yang telah memberikan bantuan hingga ia berhasil naik tahta di kerajaan Mataram.Tetapi pasukan Hindia Belanda baru mengunjungi Surabaya pada tanggal 11-April-1746.

VOC mendirikan struktur pemerintahan baru di daerah pantai utara Pulau Jawa dan Madura dengan kedudukan gubernur di Semarang. Di Surabaya diangkat seorang Gezaghebber in den Oostthoek (Penguasa Bagian Timur Pulau Jawa).

Antara Tahun 1794-1798 Penguasa Bagian Timur Pulau Jawa adalah Dirk van Hogendorp.

Pada tanggal 6 September 1799, Fredrick Jacob Rothenbuhler menggantikan Van Hogendorp berkuasa sampai tahun 1809. Pada tahun 1807 Surabaya mendapat Serangan dari angkatan laut Inggris di bawah pimpinan Admiral Pillow yang akhirnya meninggalkan Surabaya.

Setelah kebangkrutan VOC, Hindia Belanda diserahkan kepada pemerintah Belanda. Tahun 1808-1811 Surabaya di bawah pemerintahan langsung Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang menjadikan Surabaya sebagai kota Eropa kecil. Surabaya dibangun menjadi kota dagang sekaligus kota benteng.

Tahun 1811-1816 Surabaya berada dibawah kekuasaan Inggris yang dijabat oleh Raffles. Tahun 1813 Surabaya menjadi sebuah kota yang dapat dibanggakan, sampai-sampai William Thorn dalam buku Memoir of Conguest of Java berpendapat bahwa Kota Gresik (pada masa sebelumnya menjadi kota pelabuhan yang ramai) sudah menjadi kuno bila dibandingkan dengan Surabaya.

Setelah itu Surabaya kembali dikuasai Belanda. Tahun 1830-1850, Surabaya betul-betul berbentuk sebagai kota benteng dengan benteng Prins Hendrik ada di muara Kalimas. Pada tahun 1870, Surabaya terus berkembang ke selatan menjadi kota modern.

Referensi:
https://www.kaskus.co.id/thread/512b751e1976087d6d00000e/asal-usul-dan-sejarah-terjadinya-kota-surabaya/
https://sejarahlengkap.com/indonesia/sejarah-kota-surabaya
https://www.surabaya.go.id/id/page/0/4758/sejarah-kota-surabaya/
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/02/26/asal-nama-surabaya-bukan-hiu-dan-buaya

Sabtu, 10 Oktober 2015

Sejarah Awal Berdiri Kota Samarinda


Samarinda merupakan salah satu kota di Indonesia yang sekarang cukup pesat perkembanganya di Provinsi Kalimantan Timur.

Berdirinya Kota Samarinda, bermula dari kedatangan sekelompok suku Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh La Mahong Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama), yang datang ke daerah Kerajaan Kutai karena menentang perjanjian Bongaja. Kerajaan Kutai menerima kelompok ini karena diperlukan untuk membantui kerajaan Kutai dalam menentang Belanda. Mereka diizinkan bermukim di hilir sungai yaitu di Samarinda Seberang. 
Sejarah Awal Berdiri Kota Samarinda

Orang-orang Bugis Wajo ini mulai bermukim di Samarinda pada bulan Januari 1668. Pada kurun waktu itulah ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Samarinda, yaitu tanggal 21 Januari 1668. 

Sejarah Lain Samarinda Kota Seberang
Sejarah terbukanya sebuah kampung yang menjadi kota besar, dikutip dari buku berbahasa Belanda dengan judul �Geschiedenis van Indonesie� karangan de Graaf. Buku yang diterbitkan NV.Uitg.W.V.Hoeve, Den Haag, tahun 1949 ini juga menceritakan keberadaan Kota Samarinda yang diawali pembukaan perkampungan di Samarinda Seberang yang dipimpin oleh Pua Ado. Belanda yang mengikat perjanjian dengan kesultanan Kutai kian lama kian bertumbuh. Bahkan, secara perlahan Belanda menguasai perekonomian di daerah ini. Untuk mengembangkan kegiatan perdagangannya, maka Belanda membuka perkampungan di Samarinda Seberang pada tahun 1730 atau 62 tahun setelah Pua Ado membangun Samarinda Seberang. Di situlah Belanda memusatkan perdagangannya.

Namun, pembangunan Samarinda Seberang oleh Belanda juga atas izin dari Sultan Kutai, mengingat kepentingan ekonomi dan pertahanan masyarakat di daerah tersebut. Apalagi, Belanda pada waktu itu juga menempatkan pasukan perangnya di daerah ini sehingga sangat menjamin keamanan bagi Kerajaan Kutai.

Samarinda berkembang terus dengan bertambahnya penduduk yang datang dari Jawa dan Sulawesi dalam kurun waku ratusan tahun. Bahkan sampai pada puncak kemerdekaan tahun 1945 hingga keruntuhan Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, Samarinda terus �disatroni� pendatang dari luar Kaltim. Waktu itu Tahun 1966 adalah peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan semuanya masih acak dan semberawut. Masalah keamanan rakyat memang terjamin dengan terbentuknya Hansip(Pertahanan Sipil) yang menggantikan OPR (Organisasi Pertahanan Rakyat). Hansip mendukung keberadaan Polisi dan TNI.

Kendati terbilang maju pada zamannya, perubahan signifikan Kota Samarinda dimulai ketika wali kota Kadrie Oening diangkat dan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan No. Pemda 7/ 67/14-239 tanggal 8 November 1967. Ia menggantikan Mayor Ngoedio yang kemudian bertugas sebagai pejabat tinggi pemerintahan Jawa Timur di Surabaya. Kotamadya Samarinda pada tahun 1950 terbagi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir dan Samarinda Seberang. Luas wilayahnya saat itu hanya 167 km�. Kemudian pada tahun 1960 wilayah Samarinda diperluas menjadi 2.727 km� meliputi daerah Kecamatan Palaran, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja. Namun belakangan, kembali terjadi perubahan. Kota Samarinda hanya tinggal Kecamatan Palaran, Samarinda Seberang, Samarinda Ilir dan Samarinda Ulu. sejarah

Referensi:
http://febyramadhany.blogspot.co.id/2011/08/sejarah-kota-samarinda.html
http://visitkotatepian.blogspot.co.id/p/sejarah-kota-samarinda.html

Rabu, 30 September 2015

Sejarah Terbentuknya Kota Lamongan (Jawa Timur)

Nama Lamongan sendiri berasal dari nama seorang tokoh pada masa dulu . Kabupaten Lamongan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Lamongan. berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Gresik di timur, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang di selatan, serta Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban di barat.
Sejarah Terbentuknya Kota Lamongan (Jawa Timur)

Kisah Terbentuk Kota Lamongan
Berawal dari diwisudanya Adipati Lamongan pertama yaitu Tumenggung Surajaya(Rangga Hadi) meskipun pada waktu itu Kasultanan Pajang yang menjadi pusat pemerintahan,tetapi yang bertindak mengangkat/mewisuda Surajaya yang menjadi adipati Lamongan yang pertama bukanlah Sultan Pajang melainkan Kanjeng Sunan Giri IV. Hal itu di sebabkan karena Sunan Giri prihatin terhadap Kasultanan Pajang yang selalu resa dan situasi pemerintahan yang kurang mantap,dan faktor yang lain adalah Kanjeng Sunan Giri merasa resah atas tingkah para pedagang asing dari Eropa yaitu pedagang Portugis yang ingin menguasai Nusantara khususnya pulau Jawa dan perlu diketahui bahwa berdirinya Kabupaten Lamongan yang sepenuhnya berlangsung di jaman Keislaman dan diwisudanya Tumengung Surajaya bertepatan pada tanggal 10 dzulhijah 976 H yang tidak lain adalah hari Idul Adha dan setelah ditelusuri jatuh pada tanggal 26 Mei 1569 M.

Beliau (RanggaHadi) waktu mudah bernama Hadi,yang berasal dari Dusun Cancing yang terletak di wilayah Sendangrejo kecamatan Ngimbang kabupaten Lamongan.sejak masih mudah beliau sudah nyuwito di Kasunanan Giri dan beliau juga termasuk santri yang dikasihi oleh Kanjeng Sunan Giri karena sifatnya yang baik,terampil,cakap dan cepat menguasai ajaran Agama Islam oleh karena itu akhirnya Sunan Giri menunjuk Hadi untuk melaksanakan perintah menyebarkan Agama Islam dan sekaligus mengatur pemerintahan dan kehidupan Rakyat di kawasan yang terletak disebelah barat Kasunanan Giri yang bernama kenduruan oleh karena itu Sunan Giri memberikan pangkat Rangga kepada Hadi.

Singkat cerita RanggaHadi dengan segenap pengikutnya naik perahu di kali Lamong dan berhasil sampai di Kenduruan, oleh masyarakat daerah ini Rangga Hadi diberi sebutan Mbah Lamong yang memiliki arti pandai NGEMONG Rakyat karena pandai membina daerah,dan mahir menyiarkan Agama Islam,serta dicintai oleh seluruh Rakyatnya dan dari kata Mbah Lamong inilah daerah itu kini disebut Lamongan.

Mitos Kota Lamongan
Ikan Bandeng dan Lele merupakan Lambang dari Kota Lamongan . Ikan Lele yang tentunya memiliki sejarah karena menjadi lambang dari Kota Lamongan. Ada yang bilang jika orang Lamongan asli tidak boleh memakan ikan tersebut.

Makanan Khas Kota Lamongan
Lamongan dikenal memiliki makanan khas, yang cukup populer dan dapat dijumpai di berbagai daerah di Jawa Timur, misalnya Sego Boranan, Soto Lamongan, Nasi Boranan, Tahu tek, dan Tahu campur lamongan. Wingko Babat adalah makanan ringan khas dari Babat. Selain itu ada makanan khas dari daerah Paciran yang disebut dengan Jumbreg, selain Jumbreg Paciran juga merupakan daerah penghasil buah siwalan muda yang biasa disebut Ental dalam bahasa jawa. 

Referensi:
http://sraksruk.blogspot.co.id/2012/11/sejarah-kablamongan-jawa-timur.html
http://arespank.blogspot.co.id/
http://anaklamonganlor.blogspot.co.id/p/sejarah-kota-lamongan.html

Jumat, 21 Februari 2014

Sejarah Awal Kota Bengkalis, Riau

Sejarah Awal Kota Bengkalis, Riau - Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di provinsi Riau, Indonesia. Penghasilan terbesar Kabupaten Bengkalis adalah minyak bumi yang menjadi sumber terbesar APBD-nya bersama dengan gas.

Kabupaten Bengkalis mempunyai letak yang sangat strategis, karena dilalui oleh jalur perkapalan internasional menuju ke Selat Malaka. Bengkalis juga termasuk dalam salah satu program Indonesia Malaysia Singapore Growth Triangle (IMS-GT) dan Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

Untuk itu mimin sejarah bakalan menguak sejaarah tentang kota Bengkalis, Riau. Untuk itu kamu-kamu harus menyimak tentang sejarah yang akan kuak oleh mimin sejarah.
sejarah bengkalis

Secara historis wilayah Kabupaten Bengkalis sebelum Indonesia merdeka, sebagian besar berada di wilayah pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Setelah diproklamirkannya Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan diikuti dengan penyerahan kekuasaan oleh Raja Kerajaan Siak Sri Indrapura Sultan Syarif Kasim II , maka seluruh wilayah yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Siak Sri Indrapura, termasuk wilayah Kabupaten Bengkalis berada di bawah pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kemudian pada tahun 1956 yakni berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1956 dibentuklah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis, yang pada waktu itu masih berada dibawah Propinsi Sumatera Tengah dengan pusat pemerintahan berkedudukan di Sumatera Utara. Dengan dibentuknya Propinsi Daerah Tingkat I Riau berdasarkan Undang-undang Nomor 61 tahun 1958 tentang Penetapan Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Riau dan Jambi, maka Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis berada dalam Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 

Referens:
http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/14/name/riau/detail/1403/bengkalis
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bengkalis